
IR ANTON KUSWOYO SSi MT MPt, Sekretaris Umum FKUB Tanah Laut
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI -Konflik bersenjata yang memanas antara Iran dan Israel-Amerika Serikat menjadi perhatian serius masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.
Situasi ini memicu berbagai reaksi publik di media sosial, bahkan memunculkan perdebatan yang cukup tajam.
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tanah Laut (Tala) Anton Kuswoyo mengajak masyarakat Indonesia, khususnya warga Banua (Kalsel) termasuk Tala, untuk tetap menyikapi konflik internasional dengan kepala dingin.
Selain itu diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang belum jelas kebenarannya. Apalagi di ruang publik dunia maya berseliweran beraneka unggahan–berita, video/foto, narasi–yang membahas konflik di Timur Tengah itu.
Menurutnya, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan perdamaian, masyarakat Indonesia tentu merasa prihatin terhadap jatuhnya korban jiwa akibat perang di kawasan Timur Tengah.
“Kita tentu prihatin terhadap konflik dan korban jiwa yang terjadi di Timur Tengah. Namun masyarakat Indonesia perlu menyikapi situasi ini dengan kepala dingin, tidak mudah terpancing oleh narasi yang memecah belah. Yang paling penting adalah menjaga suasana negeri tetap aman, damai, dan kondusif,” ujar Anton Kuswoyo.
Konflik Iran–Israel–AS Memanas
Perang terbaru di kawasan Timur Tengah kembali meletus sejak akhir Februari 2026 ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer besar ke sejumlah fasilitas strategis di Iran.
Operasi militer tersebut menargetkan infrastruktur militer, fasilitas nuklir, hingga pusat komando Iran yang dianggap menjadi ancaman keamanan regional.
Serangan tersebut memicu balasan dari Iran melalui peluncuran rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Serangan balasan ini bahkan menjangkau sejumlah negara di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa dalam beberapa hari pertama perang, lebih dari seribu orang dilaporkan tewas di Iran akibat serangan udara, sementara korban juga terjadi di Israel, Lebanon, serta beberapa negara lain akibat dampak konflik tersebut.
Selain korban jiwa, konflik ini juga berdampak pada sektor energi dunia karena gangguan di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak global—yang memicu lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi internasional.
Jangan Mudah Terprovokasi Informasi
Di tengah derasnya arus informasi mengenai konflik tersebut, Anton mengingatkan masyarakat Indonesia agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan berita, terutama di media sosial.
Ia menilai perbedaan pandangan terhadap konflik internasional merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis.
Namun perbedaan itu hendaknya tetap disampaikan dengan bahasa santun dan mengedepankan semangat persaudaraan.
“Saya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Verifikasi dulu kebenarannya. Jangan sampai kita ikut menyebarkan kabar yang justru memperkeruh suasana,” jelasnya.
Jaga Persatuan Bangsa
Anton menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas semangat persatuan, kerukunan, dan toleransi.
Karena itu, menjaga suasana negeri tetap kondusif merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Ia pun berharap konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat segera berakhir melalui jalur dialog dan diplomasi sehingga masyarakat sipil tidak terus menjadi korban.
“Pada akhirnya yang kita harapkan adalah dunia yang damai. Semoga para pemimpin dunia mengedepankan diplomasi dan kemanusiaan sehingga konflik dapat dihentikan,” tutup akademik Tala ini.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
