
BLUSUKAN SUNGAI – Bupati H Rahmat Trianto blusukan ke sungai di wilayah Kurau-Bumi Makmur, Kamis (26/2), untuk rencana pengerukan alur dan muara setempat.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Menyusuri alur sungai dengan kelotok kecil, H Rahmat Trianto kembali blusukan ke wilayah rawan banjir di Desa Kurau Utara hingga Handilmaluka, Kecamatan Bumimakmur, Kamis (26/2/2026).
Di tengah kondisi sungai yang mulai dangkal akibat sedimentasi, ia memastikan rencana pengerukan alur dan muara sungai segera direalisasikan sebagai langkah serius penanganan banjir.
Didampingi Camat Bumi Makmur Imam EW, Kepala Desa Sungairasau, serta staf teknis Dinas PUPRP Tanah Laut, Haji Rahmat menyisir titik-titik yang dinilai mengalami pendangkalan.
Pemerintah daerah menilai sedimentasi di beberapa bagian sungai memperlambat arus air, sehingga saat curah hujan tinggi, luapan tak terhindarkan.
“Kemarin beliau bersama kami menyisir sungai untuk melihat langsung kondisi di lapangan, khususnya terkait rencana pengerukan sungai dan muara yang mengalami sedimentasi,” ujar Imam EW, Jumat (27/2/2026).
Tinjau Pembongkaran Tabat STI
Dalam blusukan tersebut, Haji Rahmat juga meninjau progres pembongkaran tabat STI di alur sungai wilayah Kurau Utara. Dua alat berat—ekskavator amfibi dan long arm—masih bekerja membongkar struktur yang selama ini dinilai menghambat aliran air.
Pekerjaan yang dimulai sejak pekan ketiga Januari 2026 itu ditargetkan rampung dalam waktu sekitar dua bulan. Selain pembongkaran tabat, pemerintah daerah sebelumnya telah merampungkan dua sodetan ke arah Handil Maluka yang sudah berfungsi sejak bulan lalu. Satu sodetan berukuran lebih besar masih dalam tahap penyelesaian.
Langkah cepat ini disebut sebagai upaya mempercepat penurunan genangan di Kecamatan Bumi Makmur, Kurau, dan Batibati—wilayah yang kerap terdampak banjir saat musim penghujan.

Respons Banjir Berkepanjangan
Sejak Desember 2025, tiga kecamatan tersebut kembali dilanda banjir yang berlangsung lebih dari satu bulan. Ratusan warga sempat mengungsi. Warga Desa Kali Besar dan Handil Negara, Kecamatan Kurau, mengungsi ke Pondok Pesantren Ubudiyah di Batibati.
Warga Desa Benua Raya juga menempati lokasi yang sama, sementara sebagian warga Bumi Makmur bertahan di langgar dan sekolah yang dijadikan pos darurat.
Normalisasi daerah aliran sungai yang direncanakan mencakup pengerukan sedimentasi, pelebaran alur, hingga penguatan tebing sungai.
Upaya itu diharapkan meningkatkan kapasitas tampung dan aliran air sehingga risiko luapan dapat ditekan.
Rahmat sebelumnya menegaskan, normalisasi sungai bukan sekadar respons atas banjir yang telah terjadi, melainkan bagian dari langkah jangka panjang melindungi masyarakat di wilayah rawan.
Kehadirannya langsung di lapangan menjadi sinyal bahwa penanganan banjir di Tanah Laut tak berhenti pada wacana, melainkan dikawal hingga tahap teknis pelaksanaan.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
