
KABUT asap selubungi jalan raya di Kalsel, beberapa tahun lalu.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Ancaman kemarau ekstrem yang diperkirakan melanda Kalimantan Selatan tahun ini mulai memunculkan kekhawatiran warga Tanahlaut (Tala).
Pengalaman kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beberapa tahun lalu masih membekas di ingatan masyarakat, terutama mereka yang setiap hari melintasi ruas Jalan A Yani menuju Banjarmasin.
Kekhawatiran itu semakin menguat setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan adanya potensi El Nino kuat atau yang kerap disebut El Nino “Godzilla” yang dapat memicu musim kemarau lebih panjang dan meningkatkan risiko karhutla.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanah Laut bergerak lebih dini.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat sistem deteksi dan penanganan awal karhutla melalui pembentukan relawan siaga bencana hingga tingkat desa.
Keseriusan pemerintah terlihat dalam apel kesiapsiagaan penanganan karhutla yang dipimpin langsung Bupati H Rahmat Trianto di Lapangan Pertasi, Pelaihari, Rabu lalu.
Dalam kesempatan itu, para camat di wilayah rawan karhutla diminta memperkuat langkah pencegahan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Kecamatan Tambang Ulang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.
Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kawasan yang paling rentan mengalami kebakaran lahan dalam skala luas, bahkan beberapa kali memicu kabut asap yang menyelimuti wilayah sekitar.
Camat Tambang Ulang Khairil Fahmi mengatakan pihaknya telah bergerak melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sejak beberapa waktu terakhir melalui Kasi Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantib) bersama aparatur kecamatan.
“Kami sudah beberapa kali turun ke desa-desa rawan untuk mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan informasi BMKG, tahun ini ada potensi kemarau yang cukup ekstrem sehingga langkah antisipasi harus dilakukan sejak sekarang,” ujarnya.
Menurut Khairil, salah satu fokus pengawasan berada di Desa Gunung Raja yang berbatasan dengan Desa Benua Raya, Kecamatan Bati-Bati.
Kawasan tersebut memiliki hamparan lahan tidur yang ditumbuhi semak kering atau bondong dalam area sangat luas.
Saat kemarau panjang, vegetasi kering tersebut sangat mudah terbakar dan api dapat menjalar cepat ke berbagai arah.
“Kawasan Gunung Raja menjadi salah satu titik yang terus kami awasi karena memiliki hamparan bondong yang sangat luas. Ketika kemarau panjang, kondisinya sangat kering dan rawan terbakar,” katanya.
Selain Gunung Raja, Desa Sungai Pinang juga menjadi perhatian karena memiliki karakteristik lahan serupa.
Bahkan kawasan bondong di wilayah tersebut saling terhubung dengan hamparan lahan di Gunung Taja, Benua Raya, dan sejumlah desa lainnya sehingga berpotensi memperluas dampak jika terjadi kebakaran.
Untuk memperkuat pencegahan, pemerintah telah membentuk relawan siaga bencana di desa-desa rawan.
Setiap desa sedikitnya memiliki enam relawan yang bertugas membantu pemantauan, pelaporan dini, serta penanganan awal ketika muncul titik api.
“Relawan desa sudah dibentuk sekitar enam orang per desa sesuai koordinasi dengan BPBD Tala. Selain itu juga ada relawan di tingkat kecamatan. Mereka diharapkan dapat segera melaporkan dan membantu penanganan awal apabila muncul titik panas maupun titik api,” jelas Khairil.
Menurutnya, keberadaan relawan sangat penting karena kecepatan informasi sering menjadi faktor penentu keberhasilan mencegah kebakaran meluas.
Pihak kecamatan juga terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar semak maupun rumput kering, serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Perhatian khusus diberikan kepada warga yang memiliki lahan berbatasan langsung dengan kawasan bondong. Mereka diminta lebih berhati-hati, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Sementara itu, ancaman munculnya kembali kabut asap membuat sebagian warga berharap langkah antisipasi pemerintah benar-benar dimaksimalkan.
Nina Maulida, warga Tala, mengaku masih mengingat bagaimana tebalnya asap saat karhutla melanda beberapa tahun lalu.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan yang bepergian menuju Banjarmasin.
“Kalau asap sudah tebal, perjalanan ke arah Banjarmasin dari Pelaihari menjadi tidak nyaman dan cukup mengkhawatirkan,” sebutnya, Senin (8/6/2026).
Dulu, sebutnya, ruas Jalan A Yani mulai dari kawasan Pulau Sari, Gunung Raja sampai wilayah Bati-Bati sering tertutup asap. Jarak pandang berkurang dan perjalanan terasa tidak aman.
Nina berharap seluruh upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah, termasuk pembentukan relawan di desa-desa, mampu menekan potensi karhutla sebelum muncul titik api dalam jumlah besar.
Harapan serupa disampaikan Isnaini Hairiyah. Ia mengaku cemas apabila kemarau tahun ini benar-benar berlangsung ekstrem seperti yang diperkirakan BMKG.
“Yang paling terasa itu udara menjadi tidak nyaman dihirup. Saat asap tebal muncul, aktivitas sehari-hari terganggu dan anak-anak juga lebih rentan terkena gangguan pernapasan. Mudah-mudahan pemerintah dan masyarakat bisa sama-sama menjaga agar kebakaran lahan tidak terjadi,” katanya.
Isnaini menilai pembentukan relawan hingga tingkat desa merupakan langkah tepat karena dapat mempercepat penanganan ketika muncul titik api di lapangan.
Dengan pengalaman karhutla yang pernah menimbulkan kabut asap hingga mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan nasional Pelaihari-Banjarmasin, pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu.
Harapannya, ancaman El Nino “Godzilla” tidak berujung menjadi bencana asap yang kembali menyelimuti Tanahlaut.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, ekonomi, dan keselamatan masyarakat.

KHAIRIL FAHMI, Camat Tambang Ulang
Bahaya Kabut Asap
1. Gangguan Pernapasan Partikel halus dalam asap (PM2.5) dapat masuk hingga ke paru-paru dan memicu batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan, serta memperparah asma dan penyakit paru kronis.
2. Meningkatkan Risiko ISPA Saat kabut asap pekat, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) biasanya meningkat, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
3. Iritasi Mata dan Kulit Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, merah, berair, serta iritasi pada kulit yang sensitif.
4. Menurunkan Jarak Pandang Kabut asap tebal dapat membahayakan pengguna jalan. Risiko kecelakaan lalu lintas meningkat karena jarak pandang menjadi terbatas, terutama di ruas jalan panjang seperti Jalan A Yani Pelaihari-Banjarmasin.
5. Mengganggu Aktivitas Ekonomi dan Pendidikan Transportasi menjadi terganggu, aktivitas luar ruangan dibatasi, dan kegiatan belajar mengajar maupun pekerjaan dapat terdampak.
6. Dampak Jangka Panjang Paparan partikel asap dalam waktu lama berpotensi meningkatkan risiko gangguan paru-paru, penyakit jantung, dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Tips Menghindari Dampak Kabut Asap
1. Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan Jika kabut asap mulai pekat, batasi aktivitas di luar rumah, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita asma.
2. Gunakan Masker yang Tepat Gunakan masker N95 atau KN95 saat berada di luar ruangan. Masker kain biasa kurang efektif menyaring partikel halus asap.
3. Tutup Pintu dan Jendela Saat asap tebal, usahakan pintu dan jendela rumah tetap tertutup untuk mengurangi masuknya partikel asap.
4. Perbanyak Minum Air Putih Air putih membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan dan mengurangi iritasi akibat udara kering dan berasap.
5. Gunakan Kacamata Saat Beraktivitas Kacamata dapat membantu mengurangi iritasi mata akibat paparan asap.
6. Jaga Kebersihan Rumah Bersihkan lantai dan permukaan rumah secara rutin karena partikel asap dapat menempel dan terbawa masuk.
7. Waspadai Gejala Gangguan Kesehatan Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, atau iritasi mata yang tidak membaik.
Tips Aman Berkendara Saat Kabut Asap
- Nyalakan lampu utama kendaraan meski siang hari.
- Kurangi kecepatan dan jaga jarak aman.
- Hindari menyalip jika jarak pandang terbatas.
- Gunakan lampu kabut (fog lamp) jika tersedia.
- Berhenti di tempat aman jika jarak pandang sangat buruk.
Pencegahan Dimulai dari Masyarakat
Cara paling efektif menghindari kabut asap adalah mencegah terjadinya karhutla. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah atau semak kering, serta segera melaporkan jika menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.
Pengalaman kabut asap yang pernah menyelimuti wilayah Tambangulang, Batibati, hingga ruas Jalan A Yani menuju Banjarmasin menjadi pengingat bahwa pencegahan jauh lebih mudah dan murah dibandingkan penanganan setelah kebakaran meluas.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
