
INILAH sapi yang viral dan dinarasikan ber-GPS itu.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Video viral yang menarasikan penangkapan pencurian sapi berkat kalung GPS sempat menghebohkan jagat maya di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan. Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, fakta di balik peristiwa tersebut ternyata jauh berbeda dari narasi yang beredar.
Video amatir itu memperlihatkan seorang lelaki muda berpeci berada di dalam kabin sebuah mobil pikap hitam dengan TNKB DA 8710 LB. Di bak kendaraan tampak seekor Sapi Bali dengan kalung hijau di lehernya.
Dalam rekaman tersebut, seorang perempuan menuding sopir pikap sebagai pencuri sapi, sembari menyebut bahwa ternak miliknya dilengkapi GPS sehingga mudah dilacak.
Identitas kendaraan dengan kode DA (Kalsel) dan LB (Tanah Laut) membuat publik di Tala geger. Video itu menyebar luas pada Selasa (6/1/2026), meski tanpa kejelasan lokasi dan waktu kejadian. Narasi yang beredar menyebut peristiwa tersebut terjadi di Kalimantan Selatan.
Kapolres Tanah Laut AKBP Ricky Boy Siallagan saat dikonfirmasi menyatakan pihaknya masih melakukan pengecekan. “Kalau dilihat dari TNKB memang dari Tala, tapi tetap kami cek dulu,” ujarnya singkat.
Tabir peristiwa itu mulai terbuka sehari kemudian. Lelaki muda yang dituding sebagai pencuri sapi ternyata masih berusia 16 tahun dan berstatus pelajar. Ia merupakan warga salah satu desa di Kecamatan Batu Ampar.
Ibu remaja tersebut, Siswati, mengungkapkan kronologi sebenarnya. Menurutnya, kejadian itu berlangsung pada 1 Januari 2026. Anaknya diminta oleh sang paman berinisial R untuk membantu mengambil sepeda motor yang disebut mogok di kawasan kebun sawit, dengan imbalan uang.
Namun, setibanya di lokasi, tidak ada sepeda motor sebagaimana dijanjikan. Sang paman justru naik ke pikap dan meminta keponakannya terus masuk ke area kebun. Saat remaja itu turun sejenak ke semak-semak, tiba-tiba di bak mobil sudah ada seekor sapi.
“Anak saya kaget. Katanya diminta ngangkut motor, tapi yang ada malah sapi,” ujar Siswati, Rabu (7/1/2026).
Remaja itu tetap diminta mengemudi. Bahkan, ia diberi arahan agar tidak mengaku jika dihentikan petugas keamanan. Saat dicegat sekuriti perusahaan sawit, ketidaktahuannya membuat situasi mencurigakan. Peristiwa tersebut kemudian berujung pada perekaman video oleh pemelihara sapi yang merasa kehilangan ternaknya.
Video itulah yang kemudian viral dan menempatkan remaja tersebut sebagai tertuduh pencuri. Padahal, menurut pengakuan sang ibu, anaknya justru panik dan berulang kali mencoba menghubungi pamannya yang menghilang.
“Di video terlihat dia sibuk dengan ponsel, itu karena kebingungan mencari pamannya. Ditelepon berkali-kali tapi tidak tembus, tidak bisa lagi dihubungi,” jelas Siswati.
Ia mengaku sangat terpukul atas viralnya video tersebut karena mencoreng nama baik anak dan keluarga. Meski persoalan sapi telah diselesaikan secara damai antara pemelihara sapi dan paman remaja tersebut, Siswati berharap ada klarifikasi terbuka kepada publik.
“Nama anak saya sudah terlanjur tercemar. Kami minta ada video klarifikasi agar masyarakat tahu kejadian yang sebenarnya,” tegasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa narasi viral di media sosial tidak selalu mencerminkan fakta utuh, serta dapat berdampak serius bagi pihak-pihak yang sesungguhnya tidak bersalah.
Narasi sapi tersebut ber-GPS pun ternyata tidak benar. Ini hanya ungkapan spontan si pemelihara sapi untuk memperkuat kemampuannya melacak jejak.
“Sudah kami konfirmasi kepada yang memiliki sapi itu. Dikatakan bahwa tidak ada GPS-nya. Bayangkan saja, masa iya peternak memasang cip GPS yang harganya jauh melampaui harga sapi,” sebut Kapolsek Batu Ampar Iptu Munadi.
(inspirasitala.co.id/inspira)
