
MEWARUNG – Duduk santai sambil ngopi dan menikmati gorengan di Desa Kurau Utara, Bupati H Rahmat Trianto berdiskusi dengan kades dan warga membahas penanganan banjir, Sabtu (10/1) sore.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Senja belum lama turun ketika sebuah motor trail berhenti di depan warung kecil di tepi jalan poros Kurau. Tak ada ajudan resmi, tak pula atribut jabatan.
Pria berjaket hitam, bertopi biru itu langsung duduk di bangku kayu, memesan minum, lalu menikmati gorengan yang tersaji.
Warga sekitar belum menyadari, sosok yang santai itu adalah Bupati Tanah Laut (Tala), H Rahmat Trianto.
Kehadiran orang nomor satu di Bumi Tuntung Pandang tersebut terjadi usai ia blusukan meninjau sejumlah titik banjir di Kecamatan Bumi Makmur dan Kurau, Sabtu (10/1/2026) sore.
Dari halaman RSUD H Darlan Ismail—yang juga menjadi Posko Lapangan Siaga Bencana Hidrometeorologi—Bupati memilih menjelajah langsung medan banjir dengan motor trail agar lebih leluasa dan gesit menjangkau jalanan sempit maupun yang tenggelam.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Tala Ismail Fahmi bergerak ke Desa Handil Babirik untuk menyerahkan bantuan kepada warga yang rumahnya rusak diterjang angin kencang.
Fahmi didampingi Kepala Pelaksana BPBD Tala Aspi Setia Rahman, Camat Bumimakmur Imam EW, Camat Kurau Fajar Suryadi, serta Kades Handil Babirik Amir Mahmud.
Di warung sederhana dekat simpang tiga Pasar Subuh, Desa Kurau Utara, suasana cair pun tercipta. Bahrani B, Kepala Desa Kurau Utara, mengaku sempat tak menyangka orang yang duduk di warung sederhana di desanya itu adalah sang bupati.
“Saya kira Pak Camat. Pas dekat, Masya Allah, ternyata Pak Bupati,” ujar Bahrani.
Obrolan ringan ditemani kopi dan gorengan itu berubah menjadi diskusi serius. Bahrani membeberkan kondisi banjir yang tak kunjung surut, penyumbatan aliran air, hingga dampak rob yang memperparah genangan di wilayah Kurau dan Bumi Makmur.
Bupati menyimak, sesekali menimpali, mencocokkan dengan hasil pengamatannya di lapangan dan pantauan drone.

BUPATI H Rahmat Trianto menaiki trail blusukan ke sejumlah lokasi banjir di Kecamatan Bumi Makmur dan Kurau, Sabtu (10/1) sore.
Banjir di wilayah Kurau, Bumi Makmur, hingga Bati-Bati memang menjadi perhatian khusus Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. Di beberapa titik, genangan telah bertahan hingga empat pekan, terutama di permukiman bantaran sungai.
“Langkah jangka pendek sudah berjalan, salah satunya penyedotan air menggunakan mesin dari Balai Sumber Daya Air. Ini akan kita tambah lagi,” kata H Rahmat.
Penyedotan tersebut telah dimulai sejak Kamis lalu di Desa Handil Maluka, Kecamatan Bumi Makmur. Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan pembangunan pintu-pintu air untuk mempercepat aliran genangan menuju laut.

BUPATI H Rahmat Trianto membersamai anak-anak menikmati pentol di sela kegiatannya blusukan ke sejumlah lokasi banjir di Kurau dan Bumi Makmur, Sabtu (10/1) sore.
Untuk solusi jangka panjang, Bupati menegaskan pentingnya pengerukan muara dan pendalaman alur sungai. Proses percepatan tender pun sedang disiapkan agar pekerjaan bisa segera dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan.
“Kami juga berkoordinasi dengan Kementerian PUPR. Diperlukan saluran irigasi besar dan panjang agar air tidak lagi tertahan dan cepat mengalir ke laut,” ujarnya.
Menurut H Rahmat, penanganan banjir tak cukup hanya dengan bantuan sosial. Meski bantuan sembako dan makanan siap saji terus disalurkan melalui Dinas Sosial, akar persoalan banjir berulang harus diselesaikan.
“Kalau hanya mengandalkan APBD, tentu tidak cukup. Kami sangat berharap dukungan kementerian agar persoalan banjir ini bisa benar-benar tuntas, dan tak terus menerus berulang,” ucapnya.

BUPATI H Rahmat Trianto menaiki trail blusukan ke sejumlah lokasi banjir di Kecamatan Bumi Makmur dan Kurau, Sabtu (10/1) sore.
Ia pun meminta warga bersabar, sembari memastikan pemerintah daerah terus berupaya maksimal. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk donatur, DPR RI, dan DPRD, yang selama ini juga kerap membantu sembako bagi korban banjir, turut diapresiasi.
Sore itu, di warung kecil pinggir jalan, solusi besar tentang banjir Tanah Laut dirangkai—dimulai dari secangkir kopi, gorengan hangat, dan obrolan tanpa sekat antara pemimpin dan warganya.
