
TIM PKM TRPAB Politala transfer teknologi lepada warga Desa Tebing Siring, Rabu (24/6). Jelantah merka ubah menjadi biodiesel.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Minyak goreng bekas atau jelantah yang biasanya berakhir sebagai limbah ternyata dapat diubah menjadi biodiesel, bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan solar.
Teknologi sederhana itu diperkenalkan dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Pemeliharaan Alat Berat (TRPAB) Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) kepada masyarakat Desa Tebing Siring, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, Rabu (24/6/2026).
Sebanyak 51 peserta mengikuti pelatihan sekaligus praktik langsung pembuatan biodiesel di Balai Desa Tebing Siring.
Narasumber kegiatan, Imron Mustofa ST MT, menjelaskan proses pembuatan biodiesel diawali dengan menyaring satu liter minyak jelantah untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran hasil penggorengan.
Setelah itu, sebanyak 200 mililiter metanol dicampur dengan 3 hingga 5 gram soda api atau natrium hidroksida (NaOH) hingga larut sempurna dan membentuk larutan metoksida.
“Larutan ini nantinya berfungsi mempercepat reaksi pembentukan biodiesel,” ujarnya.

Minyak jelantah kemudian dipanaskan pada suhu 50 hingga 60 derajat Celsius. Setelah mencapai suhu yang ditentukan, larutan metoksida dimasukkan ke dalam minyak sambil terus diaduk selama sekitar 15 hingga 30 menit.
Pada tahap ini terjadi proses transesterifikasi, yakni reaksi kimia yang mengubah kandungan trigliserida dalam minyak jelantah menjadi biodiesel atau metil ester.
Setelah proses reaksi selesai, campuran didiamkan selama 8 hingga 24 jam hingga terbentuk dua lapisan.
Lapisan bawah berupa gliserol dipisahkan, sedangkan lapisan atas merupakan biodiesel mentah.
Selanjutnya biodiesel dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa katalis, metanol, dan pengotor lainnya.

Tahap akhir dilakukan pemanasan untuk menghilangkan kandungan air sehingga biodiesel siap digunakan.
Kepala Desa Tebing Siring, Mulyadi, menilai teknologi tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
“BBM sedang langka, sementara jelantah di rumah-rumah warga cukup banyak. Pelatihan ini membuka wawasan bahwa limbah ternyata bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis dalam mengolah limbah rumah tangga menjadi sumber energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
