
BERSAHAJA – Penyuluh Agama Kemenag Tala Marliana bersama Camat Panyipatan Gusti Muhammad Tajuddin Noor menyambangi janda lansia miskin di Desa Panyipatan, Minggu (7/6) pagi.
INSPIRASITALA.CO.ID PELAIHARI – Langkah kaki harus benar-benar hati-hati saat memasuki rumah kayu yang dihuni Siti Asiah di Desa Panyipatan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, Minggu (7/6/2026).
Sebagian papan lantai rumah berukuran sekitar 3×4 meter itu telah keropos dimakan usia dan rayap.
Di bagian depan yang juga difungsikan sebagai dapur, beberapa papan bahkan berlubang.
Dinding kayunya juga dalam keadaan serupa. Papan yang sudah lapuk itu nyaris terkoyak hanya dengan dorongan ringan.

Di rumah sederhana itulah Siti Asiah, janda berusia lebih dari 80 tahun, menghabiskan hari-harinya seorang diri.
Pendengarannya sudah tidak sepeka dulu. Setiap orang yang ingin berbicara dengannya harus meninggikan suara agar dapat didengar jelas.
Namun di tengah keterbatasan fisik dan kondisi rumah yang kian rapuh, perempuan renta itu masih berusaha bertahan menjalani hidup.

Tak Ada Barang Berharga
Di sudut rumah hanya tampak sebuah sepeda gunung kusam dengan ban kempes yang lebih menyerupai pajangan daripada alat transportasi.
Sementara di ruang depan yang juga menjadi dapur, sebuah ceret berwarna hitam legam tergantung di dinding.
Tak jauh dari sana terdapat tungku kayu dan beberapa ikatan kayu bakar yang menjadi penopang aktivitas memasak sehari-hari.
Di sebelah rumah Asiah berdiri rumah anak bungsunya, Siti Aminah.
Nasib perempuan setengah baya ini pun tak jauh berbeda. Aminah juga menyandang status janda setelah suaminya meninggal dunia tiga tahun lalu.

Rumah kayunya memang sedikit lebih besar dan masih lebih kokoh dibanding rumah sang ibu, namun tanda-tanda kerusakan mulai terlihat di berbagai bagian bangunan.
Aminah kini memikul tanggung jawab membesarkan tiga anak yang masih menjadi tanggungannya.
Anak bungsunya masih bersekolah di taman kanak-kanak, anak kedua baru lulus SD, sementara anak sulungnya yang masih tinggal bersama sedang menempuh pendidikan di kelas II jenjang lanjutan atas.
Untuk menghidupi keluarga, Aminah menggarap sawah padi sekitar dua borong. Luas lahan itu sangat kecil jika dibandingkan satu hektare yang setara sekitar 35 borong. Sebagai informasi, 1 hektare setara 35 borong.
Hasil panen yang diperoleh sering kali tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga.
Ketika musim tak berpihak, ia menerima pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
“Yang penting halal,” ujarnya lirih.

Ironisnya, di usia yang telah senja, Siti Asiah juga masih turun ke sawah bersama sang anak, Siti Aminah.
Aminah bahkan sesekali menjadi buruh serabutan untuk membantu menopang kehidupan keluarga.
Tubuh Asiah memang mulai rapuh, tetapi keadaan membuatnya belum bisa benar-benar beristirahat.
Sementaea itu, kebutuhan hidup yang terus bertambah membuat Aminah kerap diliputi kebingungan.
Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang diterimanya sangat disyukuri, namun belum mampu menutupi seluruh kebutuhan rumah tangga.

Saat ini pikirannya tertuju pada biaya pendidikan anak-anaknya. Ia sedang mencari cara untuk membayar daftar ulang sekolah, termasuk mempersiapkan biaya melanjutkan pendidikan anaknya yang baru lulus SD ke jenjang berikutnya.
“Mudahan ada bantuan untuk memperbaiki rumah ibu, kalau bisa rumah saya juga. Lantai dan dinding yang paling utama karena sudah banyak yang keropos,” ucapnya.
Harapan mendapatkan program bedah rumah pun belum mudah diwujudkan. Lahan tempat berdiri rumah mereka bukan atas nama pribadi, melainkan milik keluarga besar sehingga terkendala persyaratan administrasi yang mensyaratkan kepemilikan tanah.
Kisah hidup ibu dan anak itu menyentuh hati banyak orang.
Pegiat sosial Tanah Laut sekaligus penyuluh Kementerian Agama Tala, Marliana, tampak berkaca-kaca saat memasuki rumah Siti Asiah.
Suaranya beberapa kali terbata ketika berbincang dengan perempuan renta tersebut.
“Insya Allah setelah ini kami akan melakukan upaya untuk membantu Nenek Asiah ini, juga pada Siti Aminah,” katanya.
Marliana berharap ada empati dari para dermawan maupun dukungan berbagai pihak agar kehidupan kedua janda itu dapat menjadi lebih baik.

Pada kesempatan yang sama, Camat Panyipatan, Gusti Muhammad Tajuddin Noor, menyatakan akan berkoordinasi dengan berbagai pihak guna mencari solusi.
“Nanti saya akan coba berkomunikasi dengan Baznas Tala. Harapannya semoga nanti ada jalan keluarnya,” ujarnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Marliana dan Camat Panyipatan menyerahkan bantuan sembako kepada Siti Asiah dan Siti Aminah.
Dua perempuan yang telah lama akrab dengan kerasnya hidup itu, menerima bingkisan sederhana sambil mengucap syukur dan mengalirkan doa terbaik.
Di rumah kayu yang terus dimakan usia itu, mereka masih memelihara satu hal yang belum lapuk oleh waktu: harapan.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
