
BEGINILAH aktivitas keseharian Henny Ramadhani sebagai driver HD di perusahaan tambang Batubara di Kintap.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Deru mesin alat berat kerap menjadi penanda dimulainya malam panjang di kawasan tambang batu bara Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan.
Di tengah hiruk-pikuk besi dan debu itu, seorang perempuan naik ke kabin armada raksasa setinggi delapan meter—dengan langkah mantap dan senyum tenang.
Dia lah Henny Ramadhani (39). Seorang ibu tiga anak, istri, sekaligus driver heavy duty (HD) yang setiap hari mengendalikan kendaraan berkapasitas angkut hingga 100 ton.
Di balik helm dan seragam tambang, ada kisah tentang pilihan hidup, pengorbanan, dan cinta pada keluarga yang tak pernah ia tanggalkan.

Menembus Dunia yang Keras
Dunia tambang selama ini identik dengan tenaga laki-laki—keras, berat, dan penuh risiko. Namun Henny justru menemukan ruang pembuktian di sana.
Sudah delapan tahun ia mengemudikan armada besar, berpindah dari Satui hingga kini di Kintap.
Perjalanan menuju lokasi kerja ia tempuh dari Sungaidanau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, dengan bus operasional perusahaan; PT LAZ Coal Minning (LCM).
Data inspirasitala.co.id, Selasa (10/2/2026), LCM adalah salah satu perusahaan kontraktor tambang batu bara ternama di Kalsel yang berkedudukan di Kabupaten Tanah Laut, tepatnya di Kecamatan Kintap.
Di Kalsel, PT LCM adalah kontraktor tambang batu bara PT Arutmin Indonesia (AI), perusahaan multinasional pemegang konsesi izin pertambangan batu bara di berbagai daerah.
Meski berdomisili di Sungai Danau, Kecamatan Satu, Tanbu (Kalsel), Henny adalah orang Bumi Tuntung Pandang. Keluarga besarnya banyak berada di wilayah Kecamatan Kurau dan Bati-Bati.
Tiap hari ia bergelut dengan dunia lapangan tambang emas di Kintap. “Tidak ada yang instan. Semua lewat proses,” katanya pelan.
Henny telah mengikuti pelatihan khusus selama sebulan, mengantongi sertifikat kompetensi, bahkan pernah mengoperasikan HD berkapasitas 120 ton. Baginya, kemampuan bukan soal gender, melainkan kemauan dan disiplin.

Malam Panjang, Pilihan yang Disadari
Jam kerja Henny tak ringan. Ia menjalani shift 12 jam, bergantian siang dan malam dalam siklus ketat: tiga hari siang, tiga hari malam, lalu satu hari libur.
Walau bekerja semalam suntuk bukan hal mudah, namun justru shift malam yang paling ia sukai.
Alasannya sederhana, tapi menyentuh sisi keibuan: siang hari masih bisa ia gunakan untuk menjadi ibu sepenuhnya.
“Saya senang shift malam. Siangnya bisa masak, ngurus rumah, ngurus anak,” ucap Henny.
Di balik kemudi, kantuk tentu pernah datang. Henny mengatasinya dengan cara-cara sederhana: ngemil, menyeruput kopi botolan, atau bercanda lewat radio (HT/handy talky) dengan sesama driver.
Kadang Henny berdendang ringan —sekadar menjaga mata tetap terbuka dan hati tetap hangat.

Mengakali Keterbatasan
Mengemudikan HD bukan perkara mudah. Tingginya mencapai delapan meter, dengan ban setinggi dua meter. Namun keterbatasan fisik tak pernah menjadi alasan bagi Henny untuk mundur.
Ia berpikir praktis menyesuaikan keadaan di lapangan. Sebuah batu diletakkan di bawah tangga untuk memudahkannya naik ke kabin. Ini dilakukan apabila posisi tanah di bawah tangga, rendah seperti cekungan.
Kesederhanaan cara berpikir itulah yang membuatnya bertahan. Bagi Henny, tantangan bukan untuk diratapi, melainkan disiasati.
Di Rumah, Tetap Ibu dan Istri
Ketangguhan Henny di tambang tak menghapus perannya di rumah. Saat shift siang, ia bangun sejak pukul 03.30 Wita untuk menyiapkan makanan bagi suami dan anak-anak.
Saat shift malam, meski waktu tidurnya hanya lima hingga enam jam, ia tetap mencuci pakaian dan merapikan rumah.
Ia memilih belum menggunakan asisten rumah tangga. Semua masih ia tangani sendiri, dibantu anak sulungnya yang sudah berkeluarga, terutama untuk mengantar adik bungsunya ke sekolah.
Ketiga anaknya—semuanya perempuan—menjadi sumber semangat sekaligus tantangan tersendiri.
“Namanya anak pasti pernah mengeluh, apalagi yang kecil,” katanya jujur.
Namun dukungan keluarga menjadi energi utama. Suaminya yang juga bekerja di sektor tambang memahami betul ritme hidup ini, meski kini bertugas di Kalimantan Tengah.

Perempuan, Mandiri Tanpa Kehilangan Peran
Bagi Henny, bekerja di tambang bukan soal kebanggaan semata, melainkan pembuktian bahwa perempuan bisa mandiri tanpa meninggalkan jati diri.
“Perempuan boleh punya penghasilan sendiri, tapi jangan mengabaikan peran sebagai ibu dan istri,” pesannya.
Ia bangga menjadi driver alat berat. Bangga karena bisa berdiri sejajar, sekaligus tetap menjadi sandaran keluarga. Bahkan, ia berharap bisa terus mengemudikan HD hingga masa pensiun di usia 55 tahun.
Inspirasi di Balik Kabin
Rekan kerjanya, Eri Kurniawan dari HRGA PT LCM, menyebut Henny sebagai sosok tangguh dan inspiratif. Saat ini, perusahaan tersebut memiliki sembilan driver perempuan—tujuh operator HD dan dua driver dump truck.
“Perempuan lebih teliti, disiplin, dan mudah diarahkan. Itu sebabnya kami mulai merekrut driver perempuan,” ujarnya.
Di balik kemudi armada raksasa itu, Henny Ramadhani mengajarkan satu hal penting: perempuan bisa memilih jalannya sendiri—bahkan di medan paling berat—tanpa kehilangan kelembutan, tanggung jawab, dan cinta pada keluarga.
(inspirasitala.co.id/inspira)
