
ILUSTRASI solar habis. Keluhan sulitnya mendapatkan solar subsidi kini kian sering terdengar di tengah masyarakat.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Bara geopolitik di Timur Tengah hingga sekarang belum menunjukkan tanda bakal padam. Efeknya pun kian dirasakan penduduk dunia, termasuk di Indonesia yaitu melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Gejolak Selat Hormuz benar-benar telah mempersempit pasokan BBM ke hampir seluruh negara. Hukum ekonomi pun berlaku, harga langsung terdongkrak ketika demand jauh melampaui supply.
Keluhan masyarakat di negeri ini termasuk di Kalimantan Selatan tak terkecuali di Kabupaten Tanah Laut (Tala), terkait sulitnya mendapatkan BBM jenis solar subsidi di SSPBU pun kembali mencuat.
Kondisi ini membuat sebagian warga terpaksa membeli solar eceran dengan harga jauh lebih mahal.
Sejumlah pengguna kendaraan berbahan bakar diesel, Jumat (8/5/2026), mengaku kini makin kesulitan memperoleh solar subsidi di SPBU karena tingginya antrean dan terbatasnya pasokan.
Situasi tersebut akhirnya memaksa mereka membeli solar eceran demi tetap bisa beraktivitas.
“Kalau di SPBU sering tidak kebagian. Mau tidak mau beli eceran walau mahal,” ujar Supiani Ahmad, warga Pelaihari.
Menurutnya, harga solar eceran saat ini sudah naik hingga Rp16 ribu sampai Rp17 ribu per liter.
Padahal sebelum gejolak situasi di kawasan Timur Tengah dan isu gangguan Selat Hormuz mencuat, harga solar eceran masih berkisar Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per liter.
Kenaikan tersebut dinilai cukup memberatkan masyarakat, terutama sopir angkutan dan pemilik kendaraan diesel yang bergantung pada BBM solar untuk bekerja sehari-hari.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya. Mereka berharap pemerintah pusat benar-benar turun tangan mengatasi persoalan distribusi solar agar masyarakat kecil tidak terus terdampak.
“Harapan kami pemerintah bisa serius menangani masalah ini. Jangan sampai rakyat kecil terus kesulitan cari solar,” kata seorang pengendara lainnya.
Terpisah, belum lama tadi salah satu pengelola SPBU di Kabupaten Tanah Laut, Junaidi, mengatakan pasokan bio solar subsidi sebenarnya masih berjalan normal tanpa kenaikan harga.
Ia menyebut selama satu bulan ada sebanyak 13 kali pengiriman masing-masing 8.000 liter, belum termasuk untuk nelayan. Harga bio solar juga tidak ada kenaikan, tetap Rp6.800 per liter.
Namun menurutnya, persoalan utama saat ini terletak pada ketidakseimbangan antara pasokan dan tingginya permintaan masyarakat.
Saat ini dikatakannya suplai tidak berimbang dengan demand. Solusinya memang idealnya suplai harus ditingkatkan sesuai kebutuhan.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan kebutuhan BBM solar di daerah masih cukup tinggi.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera mencari solusi agar distribusi solar subsidi lebih merata dan mudah diakses masyarakat.
Pantauan di lapangan, kondisi ‘perburuan’ solar subsidi di SPBU masih kurang lebih sama seperti dulu. Antrean armada roda empat selalu telah mulai berlangsung belasan jam sebelum jadwal pasokan solar tiba.
Keadaan itu yang menyulitkan bagi pemilik mobil pribadi berbahan solar untuk turut mengantre karena kerap terjadi hingga
(inspirasitala.co.id/ins-01)
