
BUPATI Tala H Rahmat Trianto menjadi pembina Upacara Peringatan HBN ke-77 di halaman kantor bupati setempat, Senin (22/12) pagi.
PELAIHARI – Peringatan Hari Bela Negara (HBN) ke-77 di Kabupaten Tanah Laut (Tala) bukan sekadar upacara seremonial.
Di halaman Kantor Bupati Tala, Senin (22/12/2025), semangat bela negara terasa hidup melalui kehadiran relawan, pelajar, mahasiswa, hingga organisasi kemasyarakatan yang selama ini berperan langsung menjaga lingkungan dan ketahanan sosial daerah.
Salah satunya para anggota Relawan Kebakaran (REDKAR) yang berdiri rapi mengikuti upacara. Bagi mereka, bela negara bukan soal angkat senjata, melainkan kesiapsiagaan menyelamatkan warga saat api mengancam permukiman.
“Ketika ada kebakaran, kami tidak sempat berpikir apa-apa selain menolong. Itu bentuk bela negara kami,” ungkap salah seorang relawan usai upacara.
Semangat yang sama juga terlihat dari para pelajar dan mahasiswa yang turut hadir. Mereka menjadi simbol regenerasi nilai-nilai kebangsaan agar tidak luntur di tengah derasnya arus digital dan perubahan sosial.
Bupati Tanah Laut H. Rahmat Trianto, saat membacakan Amanat Presiden Republik Indonesia, menegaskan bahwa bela negara harus dimaknai sebagai sikap hidup.
Ancaman terhadap bangsa kini tidak lagi bersifat konvensional, tetapi hadir dalam bentuk perang siber, radikalisme, hingga bencana alam yang menuntut kesiapsiagaan bersama.
“Bela negara dimulai dari hal sederhana: disiplin, peduli lingkungan, menjaga persatuan, dan saling menolong,” tegas Bupati di hadapan peserta upacara.
Peringatan HBN ke-77 yang mengusung tema “Teguhkan Bela Negara untuk Indonesia Maju” juga menjadi ruang refleksi sejarah, termasuk peran daerah-daerah yang menjadi fondasi perjuangan bangsa.
Lebih dari itu, peringatan ini menguatkan solidaritas nasional, terutama bagi masyarakat yang tengah diuji oleh bencana alam.

Usai upacara, senyum para relawan dan pegiat kemasyarakatan merekah saat menerima piagam penghargaan dan uang pembinaan.
Pemkab Tala memberikan apresiasi kepada pemenang Lomba Ketangkasan REDKAR, Lomba Pos Kamling Desa Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2025, serta Organisasi Kemasyarakatan Terbaik Tahun 2025.
Penghargaan itu bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas dedikasi warga yang selama ini bekerja dalam senyap menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan sesama.
Di Tanah Laut, Hari Bela Negara menjadi pengingat bahwa cinta tanah air tidak selalu hadir di medan perang, tetapi nyata dalam aksi gotong royong, kewaspadaan lingkungan, dan kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
Berikut sajian sejarah bela negara yang bisa disisipkan sebagai boks informasi atau paragraf pendalaman dalam berita human interest agar lebih bernilai literasi publik:

Sejarah Singkat Bela Negara di Indonesia
Konsep bela negara berakar kuat sejak awal kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menghadapi ancaman nyata dari upaya penjajahan kembali.
Dalam situasi tersebut, rakyat dari berbagai daerah bangkit mempertahankan kedaulatan, tidak hanya melalui angkat senjata, tetapi juga dukungan logistik, diplomasi, dan persatuan nasional.
Salah satu tonggak penting bela negara adalah Perang Gerilya 1945–1949, di mana rakyat bersama TNI mempertahankan Republik Indonesia dari agresi militer Belanda.
Daerah-daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tercatat memiliki peran strategis, baik sebagai basis perjuangan, dukungan dana, maupun pusat logistik dan pemerintahan darurat.

Kesadaran bela negara kemudian ditegaskan secara konstitusional dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (3) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
Prinsip ini diperkuat lagi dalam Pasal 30 UUD 1945 yang mengatur peran rakyat dalam sistem pertahanan dan keamanan negara.
Memasuki era modern, makna bela negara mengalami perluasan. Ancaman tidak lagi terbatas pada agresi militer, tetapi juga mencakup radikalisme, terorisme, konflik sosial, perang siber, hoaks, hingga bencana alam. Karena itu, bela negara diwujudkan melalui pengabdian sesuai profesi dan kapasitas masing-masing warga.

Peringatan Hari Bela Negara setiap 19 Desember merujuk pada peristiwa Agresi Militer Belanda II Tahun 1948, saat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk di Sumatera Barat untuk memastikan kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia.
Peristiwa ini menjadi simbol keteguhan bangsa dalam mempertahankan kedaulatan negara di tengah ancaman penjajahan.
Kini, semangat bela negara terus relevan, diwujudkan melalui kepedulian sosial, kedisiplinan, gotong royong, dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga persatuan, keamanan, serta ketahanan bangsa dari tingkat desa hingga nasional.
(inspirasitala.co.id/inspira)
