FOTO: ISTIMEWA PENGHARGAAN - Inilah penghargaan IHaI yang diberikan Kemendagri kepada Kabupaten Tanah Laut, Senin (17/11).

PENGHARGAAN – Inilah penghargaan IHaI yang diberikan Kemendagri kepada Kabupaten Tanah Laut, Senin (17/11).
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Di salah satu ruangan di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Tanah Laut (Tala), H Bambang Kusudarisman, menerima sebuah plakat yang tampak biasa.
Tidak ada tepuk tangan meriah, tidak ada sorotan kamera berlebihan. Namun di balik simbol itu, ada cerita besar tentang bagaimana masyarakat Tala menjaga satu hal yang tak bisa dibangun dalam semalam: keharmonisan hidup bersama.
Itulah penghargaan Indeks Harmoni Indonesia (IHaI) 2025) yang diberikan Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Bahtiar, kepada Tanah Laut. Apresiasi ini bukan sekadar hasil survei ribuan responden.
Ia adalah cermin kehidupan sehari-hari warga—dari obrolan warung kopi, kerja bakti kampung, hingga cara masyarakat merayakan perbedaan.
Penghargaan istimewa tersebut diterima pada, Senin (17/11/2025) sore. Bersamanya, sejumlah daerah lain di negeri ini juga mendapatkannya.
Bukan Soal Peringkat, Tapi Soal Rasa Aman
Ketika berbicara tentang IHaI, Bambang tidak menunjukkan euforia. Ia justru menekankan sisi mendasar dari indeks tersebut.
“Indeks ini bukan untuk lomba antardaerah. Ini untuk mengukur keseimbangan dan kerukunan masyarakat. Dari sini kita bisa tahu apa yang harus dibenahi untuk menjaga ketahanan sosial,” jelasnya.
Karena itu, Tanah Laut tidak bersaing dengan Banjarbaru, Barito Kuala (Batola), atau Banjar yang sama-sama menerima penghargaan.
Pasalnya, yang dinilai justru seberapa dalam masyarakat memahami, menerima, dan merawat keberagaman.

Lebih Seribu Suara yang Mewakili Banyak Cerita
Ketika ingin lolos penilaian nasional, sebuah daerah harus mengumpulkan lebih dari 1.250 responden. Tanah Laut berhasil memenuhi target ini.
Sementara itu, sejumlah daerah lain tersendat. Termasuk Kota Banjarmasin yang respondennya masih di bawah 1.000.
Bahkan Tapin hanya berhasil menghimpun 84 responden—angka yang menunjukkan betapa sulitnya memotret harmoni di daerah yang data sosialnya belum terkumpul.
Di Tanah Laut, responden itu bukan sekadar angka. Mereka adalah guru, petani, pedagang, nelayan, tokoh agama, dan pelajar—orang-orang yang merasakan langsung denyut kehidupan sosial daerah.
Harmoni yang Sering Terlupakan
Di luar ruang rapat pemerintah, harmoni sering kali hadir dalam bentuk kecil dan nyaris tak terlihat.
Contohnya ketika anak-anak bermain tanpa memandang latar keluarga. Tetangga saling menitipkan rumah saat mudik, dan kelompok keagamaan menjaga kegiatan masing-masing tanpa saling mengganggu.
Hal-hal sederhana seperti inilah yang, ketika dirangkai, membentuk jaring sosial yang kuat. Jaring itulah yang membuat Tanah Laut dipandang sebagai daerah yang stabil secara sosial.

Mengapa Harmoni Penting bagi Masa Depan Daerah?
Pada era ketika perbedaan bisa memicu konflik hanya dari potongan video 10 detik di media sosial, menjaga harmoni bukan lagi urusan seremonial. Ia adalah fondasi pembangunan.
IHaI dibangun dari tiga aspek yaitu persepsi masyarakat tentang hidup rukun. Partisipasi warga dalam kegiatan sosial, dan akseptabilitas atau kemauan menerima perbedaan.
Dari ketiga aspek itulah Kemendagri mencoba memetakan potensi kerawanan sosial di setiap daerah. Dengan begitu, pemerintah daerah tidak bekerja dalam gelap.
Tanah Laut dan Modal Sosial yang Tak Ternilai
Penghargaan yang diterima Tanah Laut mungkin tidak akan memengaruhi angka APBD, tidak pula membangun jalan baru.
Namun modal sosial yang tercermin dalam IHaI adalah kekuatan yang lebih besar dari itu yaini kemampuan masyarakat untuk tetap bersatu di tengah perubahan ekonomi, budaya, dan teknologi.
Di kantor Bakesbangpol, Bambang menyimpan penghargaan itu bukan sebagai piala kemenangan, tapi sebagai pengingat.
Bahwa harmoni tidak lahir dari kebijakan pemerintah saja, melainkan dari setiap warga yang memilih menjaga kerukunan dalam hidup sehari-hari.
Selebihnya, Tanah Laut kini punya tugas baru: membuktikan bahwa harmoni adalah investasi jangka panjang—dan daerah ini berada di jalur yang benar untuk menjaganya.
(inspirasitala.co.id/inspira)
