
WARGA Bukitmulya ngeluruk ke lokasi tambang, Rabu (21/1). Aktivitas terhenti.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Persoalan debu tambang batu bara di Desa Bukitmulya, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, terus bergulir dan memantik perhatian luas.
Debu yang beterbangan dari aktivitas penambangan dinilai telah mengganggu kenyamanan hidup warga, memicu gangguan kesehatan, hingga berujung aksi protes langsung ke lokasi tambang.
Warga Nyatakan Kondisi Darurat Debu
Keluhan bermula dari kondisi lingkungan Desa Bukitmulya yang dinilai sudah berada pada tahap darurat debu tambang.
Pujiarto, warga setempat, menyebut debu batu bara beterbangan hampir sepanjang hari dan mengotori rumah-rumah warga karena lokasi tambang berdekatan langsung dengan permukiman.
“Tiap hari kami harus menyapu berulang kali. Debu masuk ke rumah, teras cepat kotor,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Hal senada diutarakan sejumlah waega setempat. Bahkan ada yang mengaku saat malam terasa efeknya terhadap pernapasan.
Menurut warga, dampak paling terasa terjadi di RT 12 dan RT 13 Dusun 4 yang berada dekat lubang penambangan dan jalur hauling.
Ancaman Kesehatan Mulai Terasa
Selain mengotori lingkungan, debu tambang mulai berdampak pada kesehatan warga. Pujiarto menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) mulai muncul, terutama di kalangan anak-anak.
Warga menduga kondisi ini terjadi karena pengendalian debu tidak dilakukan secara maksimal, khususnya penyiraman area tambang dan jalan hauling yang dinilai tidak rutin.
Aksi Malam Hari, Warga Datangi Tambang
Merasa keluhan tak kunjung teratasi, warga Bukitmulya akhirnya mendatangi langsung lokasi tambang pada Selasa malam kemarin, sekitar pukul 21.00 Wita. Aksi spontan tersebut menjadi bentuk luapan kekesalan warga atas debu yang terus beterbangan.
Kepala Desa Bukitmulya, Triyatno Atmojo pun langsung menghubungi pihak perusahaan tambang agar segera mengambil langkah cepat.
Malam itu juga, pihak perusahaan turun ke lokasi dan melakukan penyiraman. Langkah tersebut sempat membuat warga lega, meski hanya sementara.
“Kalau tidak diprotes keras, jarang dilakukan penyiraman. Setelah didemo baru bergerak,” ujar Pujiarto.

Langkah PT Arutmin Indonesia
Menanggapi keluhan warga, PT Arutmin Indonesia Site Kintap melalui Bagian Humas, Rahmat Syahputera, menyampaikan bahwa perusahaan telah memaksimalkan upaya pengendalian debu dengan penyiraman area operasional.
Ia menjelaskan, meningkatnya debu dalam beberapa hari terakhir juga dipicu faktor alam berupa cuaca panas dan angin kencang.
“Debu naik secara natural karena kondisi cuaca,” jelasnya.
Penyiraman dilakukan menggunakan water truck (WT), di antaranya di Pit 14 akses HD dan jalur hauling Simpang Meratus Pos 4 dengan intensitas per jam. Upaya penyiraman bahkan dilakukan hingga malam hari.
Warga Kembali Turun, Tambang Sempat Berhenti
Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya meredakan keresahan. Pada Rabu (21/1/2026) sore sekitar pukul 15.00 Wita, warga kembali turun ke jalan dan mendatangi lokasi tambang. Titik kumpul aksi berada di ujung jalan hauling baru dekat pos keamanan.
Dalam aksinya, warga menegaskan tidak menolak aktivitas tambang, namun meminta dampaknya benar-benar diperhatikan.
“Pian begawi kami tidak pernah melarang. Tapi tolong perhatikan nasib warga kami. Debu ini menimbulkan penyakit pernapasan,” demikian narasi yang disuarakan warga.
Pujiarto menyebut, pada aksi lanjutan itu aktivitas tambang yang dilaksanakan kontraktor Dharma Henwa (DH) dihentikan sementara hingga ada keputusan antara warga dan PT Arutmin Indonesia.
Beberapa Hari Terakhir Debu Menebal
Kepala Desa Bukitmulya, Triyatno Atmojo, mengakui bahwa aktivitas tambang memang selalu menimbulkan debu. Namun ia menegaskan, kondisi dalam empat hari terakhir tergolong tidak biasa.
“Biasanya ada debu, tapi tiga beberapa hari terakhir ini memang luar biasa,” ujarnya.
Ia memastikan pihak desa telah berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait dan persoalan tersebut ditanggapi serius.

UPAYA penyiraman yang dilakukan PT Arutmin berlangsung hingga malam.
Camat Kintap Turun Tangan
Persoalan debu tambang Bukitmulya akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah kecamatan.
Camat Kintap, Sutarno, menyatakan telah menegur langsung PT Arutmin Indonesia, baik Site Kintap maupun Site Asam-Asam.
“Sudah saya tegur Arutmin, baik Site Kintap maupun Site Asam-Asam,” tegasnya.
Tak hanya itu, Camat Kintap memastikan akan mengumpulkan jajaran manajemen PT Arutmin Indonesia serta para subkontraktor untuk membahas solusi konkret.
Semua pihak dikumpulkan yaitu manajemen Arutmin Asam-Asam dan Kintap beserta subkon pelaksana penambangan.
Menunggu Solusi Permanen
Kini, warga Desa Bukitmulya menunggu hasil pertemuan dan langkah nyata di lapangan.
Warga berharap pengendalian debu tidak lagi bersifat reaktif setelah ada protes, melainkan dilakukan secara konsisten agar aktivitas pertambangan dan kehidupan masyarakat dapat berjalan berdampingan tanpa saling merugikan.
(inspirasitala.co.id/inspira)
