
ILUSTRASI/Kekerasan seks terhadap anak di bawah umur.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Penanganan kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Tanah Laut (Tala), tak hanya berfokus pada proses hukum.
Pemulihan kondisi psikologis korban kini menjadi perhatian serius UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Tanah Laut.
Korban yang masih berusia 13 tahun disebut mengalami tekanan mental cukup berat setelah menjalani perawatan medis akibat kehamilan yang tak terselamatkan.
Sebagai informasi, Minggu (24/5/2026), korban mengalami kekerasan seksual sejak Juni 2025 lalu hingga hamil delapan bulan.
Janinnya meninggal dalam kandungan sehingga kemudian perempuan belia bernasib malang itu harus menjalani tindakan medis yaitu kuretase.
Pelakunya yaitu lelaki tua berusia 77 tahun telah ditangkap personel Satreskrim Polres Tala pada 11 Mei lalu di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.
Warga Kecamatan Bati-Bati, Tala, yang berprofesi sebagai pedagang ini mengaku telah sepuluh kali menyetubuhi korban di sebuah rumah kosong di kawasan sepi.
Kepala UPTD PPA Tanah Laut, Pahimah, mengatakan pihaknya siap melakukan pendampingan setelah menerima laporan dari Unit PPA Polres Tanah Laut.
“Langkah pertama yang akan kami lakukan adalah pendampingan psikologis untuk mengetahui kondisi korban sekaligus memetakan kebutuhan yang perlu difasilitasi,” ujarnya.
Menurut Pahimah, proses pemulihan korban tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena trauma yang dialami menyangkut kondisi fisik maupun mental.
“Korban masih membutuhkan pemulihan bertahap. Karena selain mengalami trauma psikologis, kondisi fisiknya juga masih lemah pascatindakan medis,” katanya.
Ia menegaskan layanan yang disiapkan UPTD PPA tidak hanya sebatas konseling psikologi, tetapi juga mencakup pendampingan sosial, pendidikan hingga perlindungan sementara apabila dibutuhkan selama proses hukum berlangsung.
Pendampingan Disesuaikan dengan Kondisi Korban
UPTD PPA Tala nanti segera melakukan asesmen lanjutan untuk mengetahui latar belakang keluarga serta kebutuhan khusus korban.
Hasil asesmen nantinya menjadi dasar dalam menentukan bentuk bantuan yang paling tepat, termasuk kemungkinan fasilitasi pendidikan maupun dukungan sosial lainnya.
Pahimah menyebut koordinasi dengan aparat penegak hukum juga terus dilakukan agar proses pemeriksaan terhadap korban tetap memperhatikan aspek perlindungan anak.
“Yang terpenting sekarang adalah memastikan korban merasa aman dan mendapat pendampingan sesuai kebutuhannya,” tegasnya.
Dampak Psikologis Kekerasan Seksual terhadap Anak
Kekerasan seksual terhadap anak dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang.
Anak korban kekerasan umumnya mengalami trauma mendalam, ketakutan berlebihan, gangguan tidur, kehilangan rasa percaya diri hingga depresi.
Pada sejumlah kasus, korban juga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, sulit berkonsentrasi saat belajar, serta mengalami kecemasan ketika bertemu orang baru atau berada di tempat tertentu yang mengingatkan pada peristiwa traumatis.
Jika tidak ditangani secara tepat, trauma tersebut dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak hingga dewasa.
Karena itu, pendampingan keluarga, dukungan lingkungan serta layanan psikologis menjadi bagian penting dalam proses pemulihan korban.
Tips Mencegah Kekerasan Seksual terhadap Anak
Orang tua dan lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan seksual terhadap anak.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengajarkan anak mengenali bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain.
- Membiasakan komunikasi terbuka agar anak berani bercerita.
- Mengawasi aktivitas dan lingkungan pergaulan anak.
- Mengingatkan anak agar tidak mudah percaya pada iming-iming hadiah atau uang dari orang asing maupun orang dewasa tertentu.
- Segera melapor kepada pihak berwenang jika menemukan tanda-tanda kekerasan terhadap anak.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
