
WABUP HM Zazuli berpose bersama jajaran pejabat terkait pada Rakor TPPPS di Pelaihari, Selasa (7/7).
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Keberhasilan menekan angka stunting dinilai masyarakat tidak hanya bergantung pada rapat koordinasi, tetapi juga pada pendampingan yang benar-benar dirasakan keluarga di desa.
Harapan itu mengemuka seiring digelarnya Rapat Koordinasi Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPPS) Kabupaten Tanah Laut (Tala), Selasa (7/7/2026).
Rakor yang dibuka Wakil Bupati Tala H Muhammad Zazuli di Algoritma Resto tersebut menjadi ajang memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat penurunan stunting pada 2026.
Dalam sambutannya, Zazuli menegaskan, stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Karena itu, seluruh perangkat daerah hingga pemerintah desa harus bergerak dengan langkah yang sama.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri karena membutuhkan keterlibatan semua pihak,” ujarnya.
Ia menekankan empat fokus utama, yakni menyelaraskan program daerah dengan kebijakan pemerintah provinsi, memperkuat intervensi gizi dan non-gizi, mengoptimalkan peran Tim Pendamping Keluarga serta dana desa, dan memastikan data stunting selalu valid agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
Di akhir arahannya, Wabup mengajak seluruh peserta memanfaatkan forum koordinasi untuk mencari solusi atas berbagai kendala di lapangan sehingga percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif.
Rutin Turun ke Desa
Siti Rahmah (29), warga Kecamatan Tambang Ulang, berharap petugas lebih sering turun langsung memberikan penyuluhan kepada ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita.
“Kalau hanya mengandalkan informasi dari media sosial, belum tentu semua warga memahami. Penyuluhan langsung lebih mudah diterima masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Junaidi (46), warga Kecamatan Kurau, menilai keterlibatan pemerintah desa menjadi faktor penting agar program pencegahan stunting berjalan optimal.
“Perangkat desa paling tahu kondisi warganya. Kalau mereka aktif mendata dan mendampingi keluarga berisiko, penanganannya pasti lebih cepat dan tepat,” katanya.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
