
TEKNOLOGI – Tim Dosem Prodi Teknologi Pakan Ternak Politala menghadirkan teknologi penggembalaan ternak di Desa Alur.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Mengelola banyak ternak sapi (lebih dari 100 ekor) di kawasan perkebunan kelapa sawit yang luas bukan perkara sederhana.
Tentu sangat penting pergerakan ternak untuk dikendalikan agar tidak memasuki area sensitif. Sementara itu, pemanfaatan hijauan juga harus diatur supaya tidak terkonsentrasi di satu lokasi.
Persoalan tersebut dijawab oleh tim dosen Program Studi Teknologi Pakan Ternak Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) melalui penerapan smart electric fence berbasis internet bersama Kelompok Ternak Wonomulyo, Desa Alur, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan.
Teknologi ini dikembangkan sebagai sistem penggembalaan terkendali dalam pola integrasi sapi–sawit.
Berbeda dengan pagar listrik konvensional, smart electric fence dapat dikontrol melalui telepon seluler dengan memanfaatkan jaringan internet sehingga pengelola lebih mudah mengatur sistem.
Ketua tim pengabdian, Muhammad Irvan Ali, mengatakan teknologi tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan nyata peternak yang mengelola populasi sapi dalam jumlah besar.
“Dengan populasi lebih dari 100 ekor, pengelolaan sapi membutuhkan sistem yang lebih terarah. Smart electric fence membantu membatasi area penggembalaan, mengatur rotasi ternak, sekaligus memberikan kemudahan karena sistem dapat dikontrol melalui handphone,” ujarnya.

Penggembalaan Lebih Terencana
Penerapan teknologi ini memungkinkan areal penggembalaan dibagi menjadi beberapa paddock atau blok.
Sapi ditempatkan pada blok yang telah ditentukan, kemudian dipindahkan secara bertahap menyesuaikan kondisi hijauan dan kebutuhan penggembalaan.
Pola tersebut mendorong perubahan dari penggembalaan bebas menjadi sistem yang lebih terencana.
Ketika satu blok digunakan, blok lainnya dapat diistirahatkan sehingga hijauan memiliki kesempatan untuk tumbuh kembali.
Pembagian area juga membantu mencegah ternak memasuki tanaman sawit muda, fasilitas kebun, jalan operasional, maupun kawasan lain yang perlu dilindungi.
Dengan konsep itu, pagar listrik tidak hanya berfungsi sebagai pembatas fisik, tetapi menjadi bagian dari manajemen peternakan, khususnya dalam pembentukan paddock, rotasi penggembalaan, dan perlindungan area sensitif.

Dikendalikan Lewat Handphone
Unsur pembeda dalam penerapan teknologi ini adalah sistem smart electric fence yang terhubung dengan internet.
Pengelola dapat melakukan pengendalian melalui handphone sehingga pengoperasian menjadi lebih praktis, terutama bagi kelompok yang memiliki populasi ternak besar dan areal penggembalaan tersebar.
Meski demikian, kontrol digital tidak menggantikan pemeriksaan lapangan. Kondisi kawat, vegetasi, sumber daya, energizer, grounding, hingga perilaku ternak tetap perlu diperiksa secara rutin untuk memastikan sistem bekerja dengan baik dan aman.
“Teknologi yang kami bawa tidak hanya berbicara tentang pagar listrik, tetapi bagaimana teknologi digital dapat membantu peternak mengelola penggembalaan secara lebih efektif, aman, dan mudah dioperasikan,” kata Irvan.

Libatkan Puluhan Peserta
Penerapan teknologi tersebut diikuti 65 peserta yang terdiri atas anggota kelompok ternak, mahasiswa, dan praktisi.
Kegiatan tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat, tetapi juga disertai pendampingan mengenai cara kerja smart electric fence, pembentukan paddock, rotasi penggembalaan, pengenalan pagar kepada sapi, pemeriksaan sistem, pemeliharaan, serta prosedur keselamatan.
Tim pengabdian terdiri atas Muhammad Irvan Ali sebagai ketua, bersama Imron Musthofa dan Baluh Medyabarata Atmaja sebagai anggota. Ketiganya merupakan dosen Politala.
Melalui pendampingan tersebut, teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai perangkat yang terpasang di lokasi, tetapi dapat dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh kelompok ternak.

Dari Pagar Menjadi Sistem Manajemen
Penerapan smart electric fence menunjukkan bahwa digitalisasi peternakan dapat diarahkan untuk menjawab persoalan konkret di lapangan.
Teknologi tersebut membantu mengendalikan lebih dari 100 ekor sapi, mengatur pemanfaatan hijauan, melindungi tanaman sawit, sekaligus mempermudah pekerjaan peternak.
Integrasi sapi–sawit memiliki potensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya karena vegetasi di bawah tegakan sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan.
Namun, pemanfaatannya membutuhkan pengelolaan yang terukur melalui sistem rotasi agar ketersediaan hijauan tetap terjaga.
Bagi Politala, penerapan teknologi ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi vokasi dalam menghadirkan inovasi yang dapat langsung diterapkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Pendanaan 2026, yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, kelompok ternak, mahasiswa, dan praktisi, smart electric fence diharapkan menjadi langkah menuju pengelolaan integrasi sapi–sawit yang lebih aman, efisien, adaptif, dan berbasis teknologi.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
