
FGD – Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan memimpin FGD Akselerasi Kabupaten Tala Sebagai Sentra Jagung Kalsel, Jumat (20/2), di Balairung, Pelaihari.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Upaya menjadikan Kabupaten Tanah Laut (Tala) sebagai lumbung jagung Kalimantan Selatan terus dimatangkan.
Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) percepatan sentra jagung yang dipimpin Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr Rosyanto Yudha Hermawan di Balairung Tuntung Pandang, Pelaihari, Jumat (20/2/2026) siang.
Forum sttrategis ini mempertemukan jajaran Polda Kalsel, Polres Tala, DPRD Tala, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Tala, para penyuluh pertanian (PPL maupun PenyuluhPertanianSwadaya/PPS), hingga Bhabinkamtibmas.
Diskusi difokuskan pada langkah konkret memperkuat posisi Tala sebagai pusat produksi jagung menuju visi Indonesia Emas 2045.
Daerah berjuluk Bumi Tuntung Pandang ini sebenarnya sejak dulu telah menggenggam status sebagai sentra jagung di Kalsel, selain daging sapi, namun beberapa tahun terakhir mengalami penyusutan produksi.
Data dihimpun, puncak produksi jagung di Tala terjadi pada 2018 silam. Berikutnya setelah itu terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun hingga sekarang.
Harga panenan yang kurang berpihak pada petani membuat sebagian petani jagung di daerah ini beralih ke komoditas perkebunan, terutama kelapa sawit.
Ketahanan Pangan Jadi Agenda Strategis
Dalam arahannya, Kapolda menegaskan sektor pertanian, khususnya jagung, memiliki peran penting dalam menopang ketahanan pangan nasional.
Karena itu, percepatan pengembangannya tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, kepolisian juga memiliki tanggung jawab moral dalam mendukung pembangunan daerah.
Melalui peran Bhabinkamtibmas di desa, pengawalan program pertanian dapat dilakukan secara langsung dan berkelanjutan.
“Bhabinkamtibmas bukan hanya menjaga kamtibmas, tetapi juga bisa menjadi penggerak dan fasilitator di wilayah binaan,” tegasnya.
Strategi Peningkatan Produksi
Dalam FGD tersebut, sejumlah strategi dibedah bersama. Mulai dari pemetaan potensi lahan, optimalisasi penggunaan bibit unggul, peningkatan kapasitas SDM pertanian, hingga penguatan sistem pendampingan bagi petani.
Sinergi antara penyuluh pertanian dan aparat kepolisian juga menjadi perhatian. Monitoring langsung ke desa-desa dinilai penting agar program berjalan efektif dan tepat sasaran.
Kapolda menekankan bahwa akselerasi ini harus ditopang perencanaan matang, koordinasi solid, dan pengawasan berkelanjutan agar benar-benar berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.

DPRD dan Dinas Siap Bersinergi
Wakil Ketua Komisi II DPRD Tala Hj Endang Isnawangsih SH menyatakan dukungan penuh terhadap langkah percepatan sentra jagung tersebut. Ia berharap forum ini melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret dan aplikatif.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Tala Ir HM Faried Widyatmoko menegaskan kesiapan jajarannya untuk memperluas areal tanam, memperkuat kelembagaan petani, serta mendorong pemanfaatan teknologi pertanian modern.
Menuju Tala sebagai Lumbung Jagung Kalsel
FGD ini menjadi pijakan awal memperkuat komitmen bersama antara pemerintah daerah, legislatif, kepolisian, dan penyuluh pertanian.
Targetnya jelas: menjadikan Tanah Laut sebagai sentra jagung unggulan di Kalimantan Selatan sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Dengan sinergi yang terbangun, Tala diharapkan mampu mempercepat peningkatan produksi, memperkuat ekonomi petani, dan menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Bibit Bisi 18 Gratis Segera Disalurkan
Dalam arahannya, Kapolda mengumumkan bantuan bibit jagung varietas Bisi 18—varietas yang selama ini paling diminati petani Tala—secara cuma-cuma untuk luasan 100 hektare.
Bantuan tersebut bersumber dari APBD Provinsi Kalimantan Selatan. Tak hanya itu, Kapolda menyatakan akan mengusulkan kepada gubernur agar cakupan bantuan dapat diperluas melebihi 100 hektare.
“Ini tahap awal 100 hektare. Kita dorong agar ke depan bisa lebih luas lagi,” ujarnya.
Langkah ini dinilai menjadi suntikan awal yang signifikan dalam mempercepat peningkatan luas tanam sekaligus produktivitas jagung di Tala.
💸 Tantangan Biaya Produksi Tinggi
Di sisi lain, FGD juga mengupas tantangan riil yang dihadapi petani. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Tala, M. Faried Widyatmoko, mengungkapkan bahwa ongkos produksi jagung di Tala relatif lebih tinggi dibanding daerah lain.
Hal itu disebabkan karakter lahan kering di Tala yang kurang subur, sehingga petani harus menggunakan pupuk kandang dalam jumlah besar. Biaya tambahan ini berkisar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hektare.
“Berbeda dengan di Pulau Jawa dan Sulawesi yang tidak perlu pupuk kandang sebanyak di sini. Ini yang membuat biaya produksi cukup membebani,” jelasnya.
Siapkan Kajian Ilmiah, Cari Alternatif Pupuk
Menanggapi persoalan tersebut, Kapolda menegaskan komitmennya untuk membantu mencarikan solusi teknis. Ia akan berkoordinasi dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Dinas Pertanian Provinsi Kalsel guna melakukan kajian ilmiah.
Tujuannya adalah menemukan alternatif pengganti pupuk kandang yang lebih efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi produktivitas.
“Kita ingin ada solusi berbasis kajian ilmiah. Kalau bisa lebih hemat dan hasilnya tetap baik, tentu itu sangat membantu petani,” tegasnya.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
