
SEMUA pihak terkait dikumpulkan Camat Bati-Bati Noor Helmi di Ponpes Ubudiyah, Rabu (25/2), menyikapi video viral menu MBG berjamur.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Polemik menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bati-Bati yang viral sejak Senin (23/2/2026) memasuki babak baru.
Setelah klarifikasi berlapis dari SPPG, pengawas TNI, dan koordinator kabupaten, kini fakta di lapangan terungkap: sebagian donat memang berjamur, dan distribusi ke depan dipastikan dilakukan per hari.
Rangkaian evaluasi itu mengemuka dalam pertemuan mediasi yang digelar Rabu (25/2/2026) di Ponpes Ubudiyah, Desa Padang, dipimpin Camat Bati-Bati Noor Helmi.
Fakta Terbuka di Forum Mediasi
Pertemuan digelar karena wali santri yang mengunggah keluhan merupakan orang tua dari Ponpes Ubudiyah.
Hadir dalam forum tersebut Kepala SPPG Bati-Bati Ujung Hernando R, wali santri Jasimah, penyedia donat, unsur Polsek dan TNI, pimpinan ponpes, hingga tokoh kelembagaan daerah.
Dalam forum itu terungkap bahwa memang terdapat sebagian donat yang berjamur serta sebagian ubi cilembu dalam kondisi kurang baik.
Camat Noor Helmi menyebut kejadian ini sebagai evaluasi bersama. Sehari sebelumnya, Selasa (24/2/2026), ia bersama Forkopimcam telah mendatangi dapur SPPG di Desa Ujung untuk meminta penjelasan langsung dari pengelola dan ahli gizi.
“Kita ingin persoalan ini diselesaikan terbuka dan menjadi perbaikan ke depan,” ujarnya.
Pengakuan Wali Santri: “Itu Jamur, Bukan Tepung”
Jasimah, warga Desa Ujunglama, menegaskan donat yang diterima anaknya memang berjamur di bagian bawah.
“Saya pastikan itu bukan tepung. Memang ada jamurnya,” katanya seusai pertemuan.
Ia juga menyebut sebagian ubi cilembu dalam paket tersebut kurang baik. Namun ia menekankan, unggahannya bukan untuk menjatuhkan pihak SPPG.
“Menu lainnya banyak yang bagus. Kebetulan yang didapat anak saya kurang baik. Saya hanya ingin ke depan lebih diperhatikan,” tandasnya.
Penyedia Donat Akui Kendala Teknis
Penyedia donat dari Liabakery mengakui adanya kelemahan teknis dalam proses produksi. Ia memproduksi sekitar 2.500 donat (menghabiskan sekitar 60 kilogram tepung) untuk distribusi Senin lalu.
Menurutnya, kemungkinan jamur muncul karena topping seres ditaburkan saat donat masih panas, sehingga meleleh dan mempercepat penurunan kualitas.
“Kalau memang ada yang berjamur, saya akui memang ada, tapi tidak banyak. Saya memang tidak mungkin mengawasi semua pekerja karena saya juga sibuk, mesin kan jalan terus,” ujarnya.
Ada tujuh pekerja yang bertugas melakukan penanganan pada tahapan lanjutan yaitu penopingan (menaburkan seres ke donat), packing, dan memasukkan ke kantong plastik.
Dirinya telah mewanti-wanti agar jangan ada yang menoping ketika donat masih panas karena bisa mempercepat penurunan kualitas seperti cepat berjamur.
Bisa jadi dari tujuh pekerja itu ada saja yang menoping saat donat masih panas, karena mungkin ingin cepat selesai dan pulang.
Ia juga mengakui keterbatasan ruang produksi membuat donat tidak bisa diangin-anginkan maksimal sebelum dikemas.
SPPG Perketat Quality Control, Distribusi Per Hari
Kepala SPPG Bati-Bati Ujung, Hernando R, menyatakan awalnya pihak produsen sempat mengklaim bercak tersebut bukan jamur.
Namun setelah dilakukan pengecekan ulang, produsen mengakui adanya kendala teknis yang menyebabkan sebagian donat berjamur lebih cepat.
Sebagai langkah koreksi, Hernando memastikan mulai Kamis (26/2/2026) distribusi MBG dilakukan per hari atau on the day, tidak lagi dirapel tiga hari seperti sebelumnya.
“Sebenarnya memang disarankan per hari. Kemarin ada opsi rapel tiga hari karena bahan sudah terlanjur dipesan. Sekarang kembali ke distribusi harian,” tegasnya.
Pengawasan bahan makanan dan kontrol kualitas, terutama dari penyedia pihak ketiga, juga akan diperketat sebelum makanan masuk dapur dan didistribusikan.
TNI dan Camat Imbau Bijak Bermedsos
Pendamping MBG dari TNI sebelumnya juga menekankan pentingnya pengawasan bahan, higienitas proses, serta keseimbangan gizi, terutama menjelang Ramadan.
Sementara Camat Noor Helmi mengimbau wali murid agar menyampaikan keluhan melalui sekolah terlebih dahulu agar dapat segera ditangani tanpa memicu kegaduhan di media sosial.
“Kita ingin ini menjadi perhatian bersama. Jika ada yang kurang layak, sampaikan lewat jalur yang ada agar bisa langsung disikapi,” katanya.
Titik Balik Evaluasi
Kasus ini menjadi momentum penting dalam tata kelola MBG di Bati-Bati. Dari klarifikasi awal, pengakuan terbuka, hingga perubahan sistem distribusi, seluruh pihak sepakat memperbaiki kualitas demi keamanan dan kesehatan para siswa serta santri.
Program MBG tetap berjalan, namun dengan pengawasan lebih ketat dan distribusi harian sebagai langkah antisipatif.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
