
Dari lapangan sederhana di Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Klsel), perjalanan petenis muda ini kini menapaki babak baru: menghadapi para petenis muda dunia di Dunlop Road To Australian Open 2025, Jepang.
“Kalau saya menang, saya akan lanjut tanding di Australia,” ujarnya dengan mata berbinar, Jumat (31/10/2025), saat ditemui di Lapangan Tenis Pemuda, Pelaihari, di kawasan Jalan Sapta Marga.
Turnamen yang akan digelar pada 10–14 November 2025 itu bukan sekadar ajang biasa. Bagi Alfaradu, ini adalah langkah besar menuju mimpi—bermain di panggung Grand Slam Australia Open, impian yang dulu hanya bisa ia tonton lewat layar televisi di rumahnya di Tambangulang.
Dari Desa ke Akademi Elit
Perjalanan Alfaradu menuju titik ini bukan tanpa perjuangan. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara, tumbuh di keluarga sederhana di desa kecil di Tala, Sungaijelai.
Sejak kecil, raket tenis menjadi sahabatnya. Ia mulai berlatih di lapangan tanah liat sederhana milik klub lokal, berbekal semangat dan keyakinan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.
Bakatnya yang menonjol membuatnya dilirik oleh Next Gen Academy, sebuah akademi tenis bergengsi di Jakarta. Dua tahun lalu, ia mendapat beasiswa untuk berlatih di sana.
Sejak saat itu, dunia Alfaradu berubah. Latihan intensif, turnamen rutin, hingga kini ia tercatat dalam peringkat 1.104 dunia versi ITF (International Tennis Federation) — pencapaian luar biasa bagi petenis muda dari pelosok Kalimantan Selatan.
“Kalau sudah di lapangan, saya lupa semuanya. Hanya fokus pada bola dan bagaimana memenangi poin,” ujar pelajar kelas 11 SMAN 1 Batu Ampar, Tala, ini sambil tersenyum.

Dari Porprov ke Dunia
Sebelum berangkat ke Jepang, Alfaradu baru saja menorehkan tinta emas di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalsel yang digelar di Tala.
Sulung dari empat bersaudara ini menyabet medali emas tunggal putra 17 tahun, melengkapi dominasi petenis Tala yang juga meraih perak dan perunggu di kategori yang sama.
Tak berhenti di situ, ia juga bersiap turun di nomor beregu bersama rekan-rekannya, di bawah dukungan penuh Ketua Pelti Tala H Syakhril Hadrianadi dan jajaran pelatih.
Pada turnamen internasional nanti, Alfaradu akan bergabung dengan tiga petenis muda Indonesia lainnya—Rafalentino (Banten), Miscka (Jakarta), dan Anjali—mewakili Merah Putih di negeri Sakura.
“Kami terpilih berdasarkan peringkat ITF masing-masing. Saya sudah siap dan optimis,” katanya mantap.
Dukungan dari Tanah Kelahiran
Kebanggaan tak hanya milik Alfaradu dan keluarganya. Bupati Tanahlaut H Rahmat Trianto secara terbuka menyampaikan apresiasinya kepada sang petenis muda.
“Kami sangat bangga. Alfaradu ini contoh nyata bahwa talenta besar bisa lahir dari daerah. Pemerintah akan terus mendukung para atlet muda agar mereka bisa bersinar, bukan hanya untuk Tala, tapi juga Indonesia,” ujarnya, Jumat (31/10/2025).
Pada kesempatan itu, Bupati Rahmat—yang juga mantan atlet—bersama Dandim 1009/TLa Letkol Inf Adhy Irawan bahkan turut mengalungkan medali bagi para juara tenis, termasuk tim beregu putra Tala yang sukses merebut emas.
Langkah Menuju Mimpi
Kini, tiket menuju Jepang sudah di tangan. Alfaradu dijadwalkan berangkat pada 8 November 2025, membawa bukan hanya raket dan sepatu tenis, tapi juga harapan besar dari seluruh masyarakat Tala.
Di balik senyum tenangnya, tersimpan tekad kuat. Dirinya berobsesi bisa masuk ke Grand Slam dan membawa bendera Indonesia berkibar di sana.
Dari lapangan kecil di desa hingga panggung internasional, perjalanan Alfaradu adalah kisah tentang mimpi, kerja keras, dan keyakinan bahwa asal-usul bukanlah batas.
(inspirasitala.co.id/inspira)

1 thought on “Dari Lapangan Tenis Tala ke Jepang: Kisah Alfaradu Menuju Dunlop Road To Australian Open 2025”