
SUASANA di SPBU Almanar, Pelaihari, Senin (27/4) siang. Terpantau tetap seperti hari-hari sebelumnya.
INSPIRASITAPA.CO.ID, PELAIHARI – Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) solar nonsubsidi memunculkan dampak yang luas. Bahkan harga solar subsidi di tingkat eceran juga.mulai merangkak naik.
Hal itu antara lain dipicu kian banyaknya pihak yang ‘berburu’ solar subsidi mengingatkan makin jomblangnya perbedaan harga dengan solar nonsubsidi.
Sebagai informasi, harga solar subsidi tetap yaitu Rp 6.800 per liter. Sedangkan solar nonsubsidi (Dexlite) harganya Rp 23.600 dari semula Rp 14.200. Pemerintah menaikkan harga solar nonsubsidi sejak 18 April 2026 lalu, menyesuaikan harga minyak dunia.
Pemilik mobil pribadi berbahan solar yang selama ini kadang membeli solar nonsubsidi di SPBU, sekarang berpikir dua kali karena perbedaan harga yang mencolok dan cukup menguras kantong.
Kondisi itu membuat antrean untuk pembelian solar subsidi di SPBU kian panjang. Mendekati jadwal pengiriman solar dari depok ke SPBU, armada solar mulai antre beberapa jam sebelumnya.
Hal tersebut juga memaksa sejumlah pemilik mobil pribadi berbahan solar terpaksa beralih ke solar non-subsidi karena tak tahan antre yang menjadi kian lama.
“Jadi ya terpaksa beli solar nonsubsidi. Terasa banget bedanya, tapi apa boleh buat. Kemarin saya ngisi 35 liter, uangnya Rp 800 ribu lebih,” ucap Yandi, warga Pelaihari, Senin (27/4/2026).
Pantauan, Senin (27/4/2026) siang, aktivitas di dua SPBU di Kota Pelaihari (SPBU simpang Angsau dan Almanar), tetap seperti biasa.
Tak terlihat antrean yang mencolok. Hanya ada beberapa unit armada–terutama truk–yang antre di tepi jalan di samping SPBU. Hal itu juga dikarenakan belum jadwal jam pasokan ke tangki pendam SPBU setempat.
Sedangkan pada pompa BBM jenis pertalite dan pertamax tetap lancar seperti biasa. Bahkan pompa pertamax turbo lengang.
Sejumlah pengendara mengeluhkan panjangnya antrean untuk memperoleh solar bersubsidi.
“Kalau untuk solar memang dari dulu susah. Biasanya sudah habis duluan karena selalu banyak yang sudah antre duluan. Mau tidak mau pakai yang non-subsidi,” ujar seorang warga pengguna mobil diesel.
Kondisi ini dinilai cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar solar untuk aktivitas sehari-hari. Perbedaan harga yang signifikan membuat pengeluaran meningkat tajam.
Sementara itu, di tingkat eceran, harga solar juga mengalami kenaikan. Saat ini, solar dijual sekitar Rp 15.000 per liter dari sebelumnya berkisar Rp 13.000 per liter. Bahkan kabarnya ada yang mencapai Rp 18.000.
Situasi ini menggambarkan adanya tekanan pada distribusi solar bersubsidi di daerah. Warga berharap ada solusi dari pihak terkait agar pasokan lebih merata dan tidak terus menyulitkan pengguna kendaraan berbahan bakar diesel.
Kepala Dusun 1 Desa Muara Asam-Asam Kecamatan Jorong, Subhan, menuturkan solar eceran di kampungnya sekitar Rp 15 ribu per liter.
Dalam sebulan hanya sekitar tiga kali nelayan di kampungnya mendapat jatah solar subsidi. Sekali jatah hanya cukup sekali untuk melaut. Karena itu selebihnya harus mencari solar eceran.
Terpisah, Sekdes Kuala Tambangan Kecamatan Takisung, Mulyadi, menuturkan solar eceran di kampungnya naik, belakangan ini.
“Informasi dari para nelayan, seliter Rp 16 ribu. Ada juga yang Rp 17 ribu,” sebutnya.
