
CERIA – Wajah-wajah ceria penuh kebahagiaan tergambar kuat pada para penerima bantuan/santunan saat bersalaman dengan Marliana, Minggu (11/1) sore.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Pagi sering kali dimulai biasa bagi banyak orang. Namun bagi Marliana (53), setiap hari adalah kesempatan untuk berbuat baik. Penyuluh agama Kementerian Agama Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan ini memilih menjalani hidup dengan satu prinsip sederhana: tak membiarkan orang lain berjalan sendirian dalam kesulitan.
Nama Marliana mungkin tak selalu muncul di baliho atau panggung kehormatan. Namun di gang-gang sempit, di rumah reyot yang nyaris roboh, hingga di tenda pengungsian banjir, kehadirannya selalu ditunggu.
Dengan langkah tenang, ia datang membawa lebih dari sekadar bantuan—ia membawa rasa peduli yang tulus.
Saat banjir merendam tiga kecamatan di Tanah Laut, Marliana nyaris setiap hari berada di lapangan. Menerobos genangan banjir hingga membasahi pakaiannya adalah hal biasa baginya.
Dalam kapasitasnya sebagai pengurus PMI Tala, ia ikut membagikan nasi bungkus yang dimasak di dapur umum Dinas Sosial.
Di antara antrean warga, Marliana menyapa satu per satu, memastikan tak ada yang terlewat. “Yang penting mereka bisa makan hari ini,” ucapnya singkat, Jumat (16/1/2026).
Kepedulian itu tak berhenti ketika air surut. Di Gedung Majelis Taklim Rizky Az-Zikra, Jalan Bhakti RT 03, Pelaihari, yang ia dirikan sejak 2022, Marliana rutin menggelar santunan bagi anak yatim, fakir miskin, lansia, dan keluarga kurang mampu.
Puluhan penerima manfaat menerima uluran tangan—uang tunai untuk anak yatim dan anak dari keluarga prasejahtera, serta sembako bagi lansia dan fakir miskin.
Terbaru, kegiatan itu ia lakukan pada Hari Minggu (11/1/2026) lima hari lalu. Wajah-wajah ceria penerima santunan/bantuan terlukis jelas, menyuratkan kebahagiaan.
Kegiatan tersebut telah ia jalani konsisten selama sembilan tahun, dua hingga tiga kali dalam setahun, termasuk pada bulan suci Ramadan. Rutin dilaksanakan dengan interval waktu sekitar tiga atau empat bulan.
“Awal Februari nanti insya Allah saya akan kembali memberikan santunan, khusus bagi kalangan mualaf,” sebut Marliana.
Bagi Marliana, berbagi bukan soal kelimpahan. Ia sendiri mengaku bukan orang berduit. Namun ia percaya, rezeki akan selalu cukup jika diniatkan untuk kebaikan.
“Allah selalu memberi jalan. Kadang lewat orang-orang baik yang ikut tergerak,” tuturnya lirih.
Kepekaan sosialnya membuat Marliana tak bisa berpaling ketika melihat penderitaan. Di pasar, warung, atau di jalan, ia kerap spontan menyapa kaum dhuafa, memberikan uang sekadar untuk makan, atau membelikan nasi bungkus.
Ia gemar blusukan ke pelosok kampung, mendatangi lansia sebatang kara dan janda tua yang hidup dalam keterbatasan, mencatat satu per satu kebutuhan mereka dalam ingatan dan doanya.
Dari blusukan itulah lahir perubahan nyata. Sejumlah rumah warga miskin yang dulu reyot dan nyaris roboh kini berdiri layak huni. Marliana menjadi penghubung antara warga tak mampu dengan para dermawan.
Tanpa banyak janji, ia mengetuk pintu-pintu kebaikan hingga bantuan datang. Salah satunya adalah bedah rumah janda lansia di Desa Kurau Utara, Kecamatan Bumi Makmur.
Perempuan sepuh itu harus menghidupi tiga orang dewasa yang seluruhnya tak berdaya. Ketika rumahnya selesai dibedah dan dermawan datang meninjau, air mata haru pun tak terbendung.
Pengabdian panjang Marliana akhirnya mendapat perhatian nasional. Pada Agustus 2025, Kementerian Agama RI menganugerahinya Penghargaan Penais Award 2025 kategori lifetime achievement.
Penghargaan itu diberikan kepada penyuluh agama yang dinilai berdedikasi dan berkontribusi nyata dalam penguatan kehidupan beragama serta pengentasan kemiskinan.
Namun bagi Marliana, penghargaan bukanlah tujuan. Selama kaki masih mampu melangkah dan tangan masih bisa mengulurkan bantuan, ia memilih terus berjalan di jalan sunyi kebaikan.
Karena baginya, hidup yang paling bermakna adalah hidup yang mampu meringankan beban orang lain.
(inspirasitala.co.id/inspira)
