
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI — Ancaman gagal panen menghantui petani jagung di Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).
Bukan sekadar serangan hama biasa, ulat grayak kali ini datang lebih ganas—bahkan disebut tak mempan terhadap insektisida yang selama ini diandalkan petani.
Data terhimpun, Kamis (2/4/2026), serangan paling parah terjadi di lahan jagung milik Samsiar, petani sekaligus kepala desa setempat.
Dari total 5 hektare lahan, sekitar 20 hingga 30 persen tanaman jagung muda dilaporkan rusak.
Daun pucuk tampak compang-camping, dipenuhi kotoran ulat, sementara hama bersembunyi di balik daun muda yang masih menggulung.
“Sudah dua kali kami semprot, tapi ulatnya tidak mati. Dulu cukup sekali semprot langsung hilang,” keluh Samsiar.
Serangan Tak Merata, Tapi Mengganas di Titik Tertentu
Meski menyerang hamparan jagung cukup luas di RT 7 Dusun 3, intensitas serangan tidak merata. Di lahan petani lain seperti milik Fadli dan Agus, serangan relatif ringan.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Gunungraja, Rositah, mengungkapkan hasil analisis awal bersama petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Diduga kuat, sumber serangan berasal dari tanaman sebelumnya.
“Kemungkinan berasal dari kepompong ulat di tanaman labu sebelumnya. Setelah panen dan ditanam jagung, kepompong itu menetas dan langsung menyerang tanaman muda,” jelasnya.
Serangan menyasar tanaman jagung usia dini, bahkan sudah terjadi sejak umur 15 hari. Meski demikian, Rositah menilai kondisi masih bisa dikendalikan karena tanaman masih berada pada fase vegetatif.
“Kalau cepat ditangani, masih bisa diselamatkan. Tapi kalau sampai fase generatif masih diserang, risiko gagal panen sangat besar,” tegasnya.
Respons Cepat Pemerintah, Bantuan Insektisida Disalurkan
Menindaklanjuti laporan petani, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Tanah Laut langsung bergerak. Bantuan insektisida disalurkan ke Kelompok Tani Berkah Bersama sebagai langkah awal pengendalian.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Distanhorbun Tala, HM Fahrizal, mengatakan bantuan diberikan setelah menerima permohonan dari kelompok tani.
“Kami langsung salurkan enam botol insektisida, masing-masing 500 mililiter. Satu botol bisa untuk sekitar dua hektare lahan,” ujarnya.
Ia menyebut, serangan saat ini masih tergolong ringan secara luasan, namun berpotensi membesar jika tidak segera ditangani.
Bantuan yang diberikan merupakan stimulan dari APBD sebagai bentuk kehadiran pemerintah menjaga ketahanan pangan daerah.
Fahrizal juga mengimbau petani untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman, serta tidak melakukan penanganan sendiri tanpa arahan teknis.
Harapan Petani: Jangan Sampai Meluas
Di tengah ancaman tersebut, petani berharap adanya penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Koordinasi antara petani, PPL, dan POPT dinilai menjadi kunci agar serangan tidak meluas ke lahan lainnya.
Langkah cepat saat ini menjadi penentu, apakah jagung-jagung muda di Gunungraja masih bisa tumbuh normal—atau justru berujung gagal panen akibat “serbuan senyap” ulat grayak.

Mengenal Ulat Grayak
Apa Itu Ulat Grayak?
Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) adalah hama utama tanaman pangan, khususnya jagung. Hama ini dikenal rakus dan menyerang bagian pucuk hingga daun muda.
Penyebab Kemunculan
- Sisa kepompong dari tanaman sebelumnya
- Pola tanam tidak bergilir
- Minimnya pengendalian hama sejak awal tanam
- Kondisi cuaca yang mendukung perkembangan hama
Cara Mengatasi
- Penyemprotan insektisida sesuai dosis dan waktu
- Pengamatan rutin sejak fase awal tanam
- Pengendalian terpadu (mekanis, hayati, dan kimia)
- Koordinasi dengan PPL dan POPT untuk rekomendasi teknis
- Penggunaan benih tahan hama
(inspirasitala.co.id/ins-01)
