
WABUP Tala HM Zazuli menyampaikan hal-hal penting pada High Level Meeting (HLM) TPID Tala bersama Bank Indonesia Kalsel di Bandung, Rabu (15/4).
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Inflasi Tanah Laut yang menyentuh angka tertinggi di Kalimantan Selatan menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah.
Fakta ini terungkap pada High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tala yang digelar bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (16/4/2026) di Soreang Kabupaten Bandung.
Melalui TPID, Pemkab kini menggenjot strategi pengendalian berbasis data, distribusi, dan kolaborasi lintas sektor.
Berdasar paparan dari Ekonom Ahli Bank Indonesia, Erwin Syafii, pada Maret 2026 inflasi Provinsi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 0,50 persen (month to month).
Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 0,86 persen. Secara tahunan, inflasi Kalsel berada di angka 4,83 persen (year on year).
Sementara itu, Kabupaten Tanah Laut mencatat inflasi bulanan sebesar 1,15 persen (mtm) atau menjadi yang tertinggi di Kalimantan Selatan, dengan inflasi tahunan sebesar 4,30 persen (yoy).
Tekanan inflasi masih didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama komoditas pangan seperti beras, cabai rawit, ikan nila, dan telur ayam ras.
Inflasi Dipicu Pangan
Kenaikan harga bahan pokok seperti beras, cabai rawit, ikan nila, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulanan 1,15 persen. Kondisi ini melampaui rata-rata provinsi yang hanya 0,50 persen.
Strategi Pemkab Tala
Wakil Bupati Tala HM Zazuli yang turut menghadiri pertemuan tersebut menegaskan, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara biasa.
Sangat penting kerja sama lintas sektor dalam mencapai target pengendalian inflasi daerah.
“Kita memiliki target yang harus dicapai, sehingga perlu kerja bersama dan koordinasi yang kuat, termasuk dengan DPRD, karena ini menyangkut kepentingan masyarakat luas,” tegasnya.
H Uli demikian ia akrab disapa juga menyoroti perlunya kebijakan yang tepat dalam menjaga stabilitas harga komoditas strategis, terutama yang berkaitan dengan rantai pasok pangan.
“Kita harus benar-benar memastikan kebijakan yang diambil tepat sasaran, karena persoalan ini menyangkut distribusi dan ketersediaan barang di lapangan,” tambahnya.
Langkah yang perlu dilakukan yaitu;
- Menguatkan rekomendasi kebijakan berbasis hasil HLM
- Memperbaiki distribusi dan ketersediaan barang
- Mendorong digitalisasi sistem informasi harga
- Memperkuat koordinasi dengan DPRD dan pemangku kepentingan
“Rekomendasi yang dihasilkan harus menjadi arah kebijakan yang konkret dan terukur,” tegasnya.
Dorong Sistem Digital
Pemkab Tala juga menaruh perhatian besar pada sistem informasi harga real time. Dengan data yang cepat dan akurat, respons terhadap gejolak harga diharapkan lebih sigap.

Harapan Warga
Di tengah kenaikan harga, masyarakat berharap langkah pemerintah segera terasa di pasar.
“Harapannya harga tidak melonjak lagi dan tetap terjangkau,” kata Siti Rahma, warga Pelaihari, Sabtu (18/4/2026).
“Yang penting barang selalu ada dan harga stabil. Itu yang kami tunggu,” tambah Kurnain, warga Kecamatan Bati-Bati.
Apa Itu Inflasi?
Inflasi adalah fenomena kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.
Fenomena ini menyebabkan nilai uang menurun, sehingga daya beli masyarakat berkurang.
Kenaikan satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali meluas ke sebagian besar barang.
Poin-Poin Penting Inflasi:
– Penyebab Utama: Tingginya permintaan melebihi pasokan (demand-pull inflation) atau peningkatan biaya produksi, seperti kenaikan bahan bakar atau upah (cost-push inflation).
– Dampak: Menurunkan daya beli masyarakat, menyulitkan aktivitas menabung karena nilai uang tergerus.
– Peran Pemerintah: Bank Indonesia (BI) bertugas menjaga kestabilan harga dan mengendalikan tingkat inflasi dalam target tahunan.
– Kebalikan: Kebalikan dari inflasi disebut deflasi yaitu penurunan harga secara umum dan terus-menerus.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
