
RUSAK – Kondisi sejumlah rumah di Desa Gunung Mas yang rusak akibat terjangan angin kencang, Rabu (24/12) subuh.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Subuh yang biasanya tenang di Desa Gunung Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), berubah merisaukan pada Rabu (24/12/2025).
Hujan turun deras, disusul angin kencang yang menderu tak biasa sekitar pukul 05.30 Wita. Dalam hitungan menit, atap beberapa rumah warga setempat tercabik hingga terlempar, dinding pun berderak.
Angin kencang yang mengarah pada puting beliung itu merusak 11 rumah warga di dua RT, yakni RT 02 dan RT 04. Sebagian besar rumah mengalami kerusakan pada atap, bahkan ada yang kerusakannya signifikan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Laut, Aspi Setia Rahman, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan cuaca ekstrem menjadi penyebab utama rusaknya belasan rumah warga tersebut.
“Angin kencang disertai hujan lebat terjadi sejak subuh. Hasil kaji cepat kami mencatat 11 rumah di Desa Gunung Mas terdampak, dengan rincian dua rumah rusak sedang dan sembilan rusak ringan,” kata Aspi.

Tak hanya di Batu Ampar, angin kencang juga menyasar Desa Maluka Baulin, Kecamatan Kurau. Sebuah rumah nonpermanen milik Supiani (54) mengalami kerusakan ringan. Meski rumahnya terdampak, Supiani bersama keluarganya bersyukur karena tidak ada korban jiwa.
Selepas kejadian, suasana duka dan cemas perlahan berubah menjadi kebersamaan. Warga bergotong royong membersihkan puing-puing atap dan kayu yang berserakan. Tanpa menunggu lama, bantuan tenaga datang dari tetangga sekitar.
BPBD Tanah Laut mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi selama musim hujan. Warga diminta segera melapor apabila terjadi kejadian serupa agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.
Di tengah rumah yang rusak dan atap yang hilang, warga Desa Gunung Mas yang terdampak memilih bertahan. Subuh yang mendebarkan itu menyisakan kerugian, namun juga memperlihatkan kuatnya solidaritas warga menghadapi bencana bersama-sama.

Data Warga Terdampak Angin Puting Beliung di Tanah Laut
Desa Gunung Mas, Kecamatan Batu Ampar
Total: 11 rumah (2 rusak sedang, 9 rusak ringan)
RT 04 / RT 02 (3 rumah – rusak ringan):
1. Slamet Bejo (80) – Heni (68), Siffa Nur Fitrya (10), Tamadi (82)
2. Djarmudi (83) – Parni (67)
3. Risman (62) – Partiyem (48), Isan Nur Permadi (25), Rayhan Nur Atthallah (10)
RT 02 / RT 01 (8 rumah – 2 rusak sedang, 6 rusak ringan):
4. Gino – Martunah, Fahrul Panji Nurfiansyah (rusak sedang)
5. Karsini (43) – Yuni Kartika Oktaviani (24), Azzahra Afifah (12) (rusak sedang)
6. Sumadi (42) – Mustaqimah (36), Yoga Gusti Yanto (20), Muhammad Iqbal Hidayatullah (11)
7. Ferry Adi Cahya (38) – Musridah (30), Alifa Hilya Shanuk (4), Askara Janu Mahesa (2)
8. Unggul Jati Prasetya (49) – Lilis Herlina (47), A. Rezcha Galang Erlangga (22), A. Ricco Galang Erlangga (18), A. Raya Galang Erlangga (11)
9. Hidra Arroyan Arif Jaya (23) – Nanda Riska Ramadhani (20), Nayara Senja Shabira (5 bulan)
10. Sulasih (60)
11. Sukidi (51) – Siti Aminah (56), Chandra Okto Firdaus (29), Nooryadi Findyanto (23), Muhammad Rhoneta (16)
Desa Maluka Baulin, Kecamatan Kurau
Total: 1 rumah (rusak ringan)
12. Supiani (54) – Hj. Umi Salamah (51)
Ditandai Perubahan Cuaca Ekstrem
Fenomena angin kencang yang melanda Desa Gunung Mas dan Maluka Baulin tersebut memiliki karakteristik khas angin puting beliung.
Angin jenis ini biasanya muncul secara tiba-tiba, berdurasi singkat, namun memiliki daya rusak tinggi.
Secara umum, angin puting beliung terbentuk dari awan cumulonimbus, yang juga memicu hujan lebat dan petir.
Pergerakannya bersifat lokal, dengan lintasan sempit, tetapi mampu merusak bangunan dalam waktu hanya beberapa menit.
Kecepatan angin dapat meningkat drastis, sehingga bagian rumah seperti atap seng, genteng, hingga bangunan nonpermanen menjadi paling rentan terdampak.
Ciri awal kemunculan angin puting beliung sering ditandai oleh perubahan cuaca yang ekstrem dalam waktu singkat, udara terasa panas atau pengap, disusul awan gelap tebal yang bergerak cepat.
Saat kejadian, biasanya terdengar suara gemuruh dan angin berputar dengan kekuatan yang tidak biasa.
Karakteristik inilah yang membuat warga kerap tidak sempat menyelamatkan harta benda. Banyak kejadian puting beliung terjadi pada pagi atau sore hari, termasuk pada waktu subuh seperti yang dialami warga Tanah Laut, ketika aktivitas masih minim dan kewaspadaan belum maksimal.
BPBD mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan ketika melihat tanda-tanda tersebut, serta segera mencari tempat aman dan menjauh dari bangunan rapuh atau pepohonan tinggi guna meminimalkan risiko cedera saat cuaca ekstrem terjadi.
(inspirasitala.co.id/inspira)
