
TIM Pengabdian Masyarakat Prodi Agroindustri Politala bersama pihak BUMDes berpose di depan kantor Desa Guntung Besar pada kegiatan lapangan, Kamis (4/6) siang.
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Komoditas kolang-kaling yang selama ini hanya dijual mentah oleh warga Desa Guntung Besar, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, bakal “naik kelas”.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang digelar Program Studi Agroindustri Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala), komoditas hasil pohon aren tersebut disiapkan menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi tinggi yang tidak hanya diproduksi, tetapi juga dikemas, diurus legalitasnya, hingga dipasarkan secara profesional.
Program yang berlangsung selama tujuh bulan, mulai Juni hingga Desember 2026, menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus upaya memperkuat ekonomi desa binaan Politala.
Kegiatan diawali dengan survei lapangan yang dilakukan tim dosen didampingi beberapa mahasiswa Prodi Agroindustri Jurusan Teknologi Pertanian, Kamis (4/6/2026).
Mereka meninjau langsung kebun-kebun aren milik warga yang selama ini menjadi sumber utama bahan baku kolang-kaling di desa tersebut.
Koordinator Prodi Agroindustri Politala, Nina Hairiyah, mengatakan Guntung Besar dipilih karena memiliki potensi kolang-kaling dan gula aren yang cukup besar namun belum dikembangkan secara maksimal menjadi produk olahan.
“Politala nantinya memberikan pelatihan pengembangan produk kolang-kaling yang akan dijadikan berbagai macam produk makanan,” ujarnya.
Menurut Nina, pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada proses produksi. Warga juga akan dibekali kemampuan pengemasan, strategi pemasaran hingga pengurusan legalitas usaha.
“Kami berharap potensi desa ini dapat menjadi ikon hasil kerja sama dengan Politala, termasuk penguatan kemasan produk bersama BUMDes agar sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini,” katanya.

Empat Produk Baru dari Satu Bahan Baku
Berbeda dengan pemanfaatan selama ini yang masih terbatas, kolang-kaling Guntung Besar akan diolah menjadi empat jenis produk sekaligus.
Produk pertama berupa kolang-kaling original kemasan yang diproses secara higienis menggunakan air cucian beras untuk menghilangkan lendir, direbus dengan daun pandan, lalu dikemas menggunakan air steril.
Produk kedua adalah manisan kolang-kaling sehat yang memanfaatkan pemanis alami stevia dan ekstrak bunga telang sehingga menghasilkan warna biru keunguan alami yang menarik.
Selanjutnya, buah aren tersebut juga akan diolah menjadi kerupuk kolang-kaling melalui proses penggilingan, pencampuran bahan, pengukusan, pengeringan hingga penggorengan.
Sementara produk keempat berupa selai kolang-kaling yang diharapkan mampu membuka pasar baru bagi komoditas lokal tersebut.
Dosen Prodi Agroindustri Politala, Rizki Amalia, menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan telah disusun secara bertahap agar masyarakat dapat menguasai seluruh proses produksi hingga pemasaran.
Pada Juni hingga Juli, fokus kegiatan berupa survei bahan baku, persiapan program dan pengadaan alat. Agustus hingga September digunakan untuk pelatihan produksi serta pengemasan.
Kemudian Oktober hingga November difokuskan pada pendampingan legalitas produk, pengujian masa simpan dan penguatan kelembagaan BUMDes. Tahap akhir pada Desember berupa evaluasi program dan serah terima keberlanjutan usaha kepada masyarakat desa.

BUMDes Jadi Penggerak Utama
Dalam program ini, BUMDes Mandiri Sejahtera, Desa Guntung Besar, tidak hanya menjadi mitra, tetapi diproyeksikan sebagai pengelola utama usaha setelah pendampingan berakhir.
BUMDes akan bertugas mengoordinasikan pasokan bahan baku dari petani aren, mengelola produksi, hingga menjadi distributor utama produk olahan kolang-kaling.
Seluruh proses pelatihan dan produksi dipusatkan di Aula Kantor Desa Guntungbesar.
Bahan baku diperoleh dari lima hingga tujuh petani aren yang menjadi mitra penyedia kolang-kaling.
Program juga melibatkan enam mahasiswa D3 Agroindustri sebagai fasilitator teknis, pendamping praktik warga dan tim dokumentasi.
Untuk mendukung kegiatan, Politala menyiapkan berbagai peralatan produksi seperti panci stainless steel, kompor gas, blender, alat pengering hingga termometer pangan.
Sementara untuk pengemasan disediakan mesin continuous band sealer, mesin penutup kaleng otomatis atau can seamer serta timbangan digital.

Gratis Kemasan dan Pendampingan Hingga Masuk Ritel
Politala juga memberikan stimulus awal berupa bantuan kemasan dan desain label produk secara gratis.
Kerupuk akan menggunakan kemasan standing pouch, selai dikemas dalam botol kaca, sedangkan manisan premium akan menggunakan kemasan kaleng hermetis agar memiliki daya tahan lebih lama.
Strategi pemasaran dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, produk akan dipasarkan melalui warung-warung dan pusat oleh-oleh di wilayah Pelaihari serta Tanahlaut.
Setelah mengantongi izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan sertifikat halal, produk akan didorong masuk ke jaringan ritel modern.
Direktur BUMDes Mandiri Sejahtera, Afidah, menyambut positif program tersebut karena dinilai sejalan dengan upaya desa mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Menurutnya, selama ini kolang-kaling hanya dijual dalam bentuk sederhana sehingga keuntungan yang diperoleh masyarakat masih terbatas.

INILAH antara lain contoh varian produk kolang-kaling yang telah dikemas rapi.
“Selama ini potensi turunan kolang-kaling hanya dijual seadanya. Namun dengan inovasi maka produk tersebut dapat dikemas dan dijual lebih luas lagi,” ujarnya.
Afidah berharap inovasi tersebut mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, terutama kelompok ibu rumah tangga, sekaligus menjadikan kolang-kaling sebagai produk khas Desa Guntungbesar yang memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
(inspirasitala.co.id/ins-01)
