
Â
Oleh: MULYONO
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian UMM, Selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian dan Pj Swasembada Pangan Kalimantan Selatan)Â
Â
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI – Ketahanan pangan merupakan aspek fundamental dalam pembangunan nasional dan daerah. Kabupaten Tanah Laut (Tala), sebagai salah satu sentra pertanian di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), memiliki potensi besar dalam produksi padi sawah.Â
Â
Namun, dinamika perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan menurunnya minat generasi muda dalam sektor pertanian menjadi tantangan nyata. Pada konteks ini, mekanisasi pertanian bukan hanya sebagai inovasi teknologi, melainkan sebagai strategi transformasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.Â
Â
Pertanian berkelanjutan mengacu pada sistem produksi yang memenuhi kebutuhan pangan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya (FAO, 2018).Â
Â
Prinsipnya meliputi efisiensi sumber daya, konservasi lingkungan, dan keberlanjutan sosial-ekonomi.
Â
Menurut Kementerian Pertanian (2023), jelasnya, mekanisasi adalah penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk menggantikan tenaga manusia atau hewan. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan ketepatan waktu dalam seluruh rantai produksi pangan.Â
Â
Tingkat mekanisasi diukur melalui indeks mekanisasi (HP/ha) yang menunjukkan rasio antara daya mesin dan luas lahan.
Â
Program cetak sawah merupakan kebijakan nasional dalam memperluas lahan tanam untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan.Â
Â
Merujuk data Kementan (2025), program cetak sawah berkontribusi pada perluasan 225 ribu hektare lahan baru di Indonesia. Di Kalsel seluas 30 ribu hektare, termasuk di Tala seluas 4.056 hektare, yang terpusat di Kecamatan Bati-Bati, Kurau, Takisung dan Tambang Ulang.Â
Â
Kabupaten Tanah Laut memiliki luas Baku Lahan Sawah (LBS) 27.079,15 hektar dengan rata-rata Indeks Pertanaman (IP) 129 persen dalam setahun. Rinciannya, IP 100 seluas 19.116 hektare, IP 200 seluas 7.942 hektare, dan IP 300 seluas 20,25 hektare.Â
Â
Luas panen padi Tanah Laut tahun 2024 mencapai 19.842 hektare dengan total produksi 103.218 ton gabah kering giling, ini sesuai data BPS tahun 2024.Â
Â
Rata-rata produktivitas mencapai 5,2 ton per hektare, sedikit di atas rata-rata Provinsi Kalsel yaitu 5,0 ton per hektare. Kecamatan Tambang Ulang, Bati-Bati, dan Kurau merupakan sentra utama produksi padi sawah.Â
Â
Tingkat mekanisasi berdasarkan data Dinas Pertanian tahun 2024, traktor roda dua 1.092 unit, Rice Transplanter 45 unit, Combine harvester 61 unit, dan pompa air 523 unit. Â
Â
Namun hanya sekitar 58 persen alsintan yang aktif digunakan secara optimal. Hambatan utama adalah kurangnya operator terlatih, biaya bahan bakar, dan manajemen kelembagaan UPJA yang belum efisien.
Â
Â
Dampak Mekanisasi Terhadap Produktivitas
Â
Data empiris menunjukkan peningkatan produktivitas padi di lahan yang telah menggunakan combine harvester meningkat 28 persen dibanding lahan manual (Balitbangtan, 2023).Â
Â
Selain itu, waktu tanam berkurang dari 7 hari menjadi 2 hari per hektare, menurunkan biaya tenaga kerja hingga Rp 2 juta per hektare.
Â
Keterkaitan Mekanisasi dan Cetak Sawah
Â
Kedua program saling melengkapi. Mekanisasi menjamin efisiensi produksi di lahan baru, sementara cetak sawah memperluas basis produksi pangan. Ketika digabungkan, keduanya mampu meningkatkan suplai beras regional hingga 6.000 ton per tahun di Kabupaten Tanah Laut.
Â

Strategi pengembangan transformasi pertanian berkelanjutan di Kabupaten Tanah Laut meliputi lima aspek yaitu mengoptimalkan peran Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA), penguatan kelembagaan petani (Kelompok tani/Gabungan Kelompok tani, Brigade Pangan) dan pelatihan dan sertifikasi operator.
Â
Lalu, integrasi data spasial untuk sinkronisasi lokasi cetak sawah dan sumber air. Skema pembiayaan berkelanjutan melalui KUR hijau dan kemitraan swasta. Penerapan sistem monitoring produksi berbasis IoT dan citra satelit. Penyusunan Rencana Induk Mekanisasi Pertanian 2025–2035.
Â
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sistem pertanian sekaligus menekan emisi karbon hingga 15 persen melalui efisiensi bahan bakar dan optimasi input.
Â
Mekanisasi tak hanya berdampak pada produktivitas, tapi juga pada perubahan sosial di pedesaan. Tersedianya alsintan memunculkan lapangan kerja baru seperti operator, teknisi, dan penyedia jasa sewa alat.Â
Â
Di sisi lain, mekanisasi yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan ketimpangan akses antara kelompok tani besar dan kecil.Â
Â
Karenanya, kebijakan harus inklusif dan memastikan partisipasi petani kecil dalam rantai nilai.
Â
Secara lingkungan, mekanisasi dapat mendukung pertanian ramah lingkungan bila diintegrasikan dengan pertanian presisi dan irigasi hemat air.Â
Â
Kementan (2023) mencatat penggunaan rice transplanter mengurangi kebutuhan benih hingga 25 persen dan pemakaian air hingga 15 persen.
Â
Transformasi pertanian berkelanjutan melalui mekanisasi dan cetak sawah di Kabupaten Tanah Laut merupakan langkah strategis menuju ketahanan pangan daerah.Â
Â
Mekanisasi meningkatkan efisiensi, menekan biaya produksi, dan memperluas akses petani terhadap teknologi modern. Namun, keberhasilan jangka panjang membutuhkan sinergi kebijakan lintas sektor, penguatan kelembagaan, dan inovasi pembiayaan.
Â
(inspirasitala.co.id/inspira)
Â
