
BUPATI H Rahmat Trianto memimpin rapat di RSUD Hadji Boejasin, Pelaihari, Selasa (15/9).
INSPIRASITALA.CO.ID, PELAIHARI — Peningkatan kelas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hadji Boejasin Pelaihari menjadi rumah sakit tipe B tidak semata-mata dipandang sebagai agenda administratif.
Pemerintah Kabupaten Tanah Laut (Tala) menempatkannya sebagai bagian dari transformasi pelayanan kesehatan yang harus berujung pada peningkatan kualitas layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kenaikan Tipe RSUD Hadji Boejasin menjadi Tipe B yang digelar di Ruang Rapat Barakat Lantai 2 Kantor Bupati Tanah Laut, Selasa (15/9/2026).
Rapat dipimpin Bupati Tanah Laut H. Rahmat Trianto, didampingi Wakil Bupati H. M. Zazuli dan Sekretaris Daerah Ismail Fahmi.
Hadir pula Kepala Dinas Kesehatan, Direktur beserta jajaran dokter RSUD Hadji Boejasin, para kepala SKPD, staf ahli, asisten, serta sejumlah instansi terkait.
Dalam forum tersebut, Rahmat Trianto mendorong seluruh jajaran rumah sakit untuk melihat proses kenaikan tipe bukan sekadar pemenuhan persyaratan fasilitas, melainkan sebagai momentum membangun standar pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif.
Menurutnya, RSUD Hadji Boejasin telah memiliki sejumlah modalitas yang cukup untuk diarahkan menuju standar rumah sakit tipe B.
Kekurangan yang masih ada, kata dia, perlu dipetakan dan diselesaikan secara bertahap melalui kerja bersama lintas sektor.
“Semangat buat kawan-kawan dari tenaga medis. Saya ingin kita menciptakan layanan kepada masyarakat tingkat dasar ini berkembang. Saya pikir kita sudah layak. Nanti kita lanjutkan apa yang menjadi kekurangan, bisa menambah jumlah pasien, apalagi kalau alat kita luar biasa sekali,” ujar Rahmat.
Bagi pemerintah daerah, peningkatan kapasitas rumah sakit juga memiliki konsekuensi yang lebih luas. Bertambahnya fasilitas dan kemampuan layanan idealnya berjalan beriringan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit daerah.
Karena itu, H Rahmat mengingatkan agar investasi pada infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik. Gedung yang representatif harus ditopang kualitas sumber daya manusia, kecukupan peralatan medis, tata kelola, serta pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan pasien.
“Rumah Sakit Boejasin ini bisa hebat lah. Jangan sampai kita punya gedung yang megah tapi masih aja di situ-situ saja. Dengan kita menaikkan mutu, maka kita meningkatkan kualitasnya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kenaikan status rumah sakit harus memiliki makna substantif.
Tipe B bukan sekadar nomenklatur baru, tetapi harus tercermin dalam kemampuan rumah sakit menangani kebutuhan kesehatan masyarakat secara lebih luas dan profesional.
Di sisi lain, aspek kesejahteraan serta pemenuhan hak tenaga medis dan staf rumah sakit juga menjadi perhatian. Rahmat memastikan persoalan tersebut tidak perlu menjadi hambatan dalam proses pembenahan rumah sakit.
Pemkab Tanah Laut, menurutnya, membuka ruang dialog dan diskusi konstruktif dengan seluruh unsur rumah sakit.
Pendekatan tersebut diperlukan agar agenda peningkatan kelas RSUD Hadji Boejasin dapat berjalan secara kolektif, terukur, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan RSUD Hadji Boejasin tidak berhenti pada perubahan status kelembagaan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap peningkatan fasilitas dan kapasitas benar-benar bertransformasi menjadi pengalaman pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat Tanah Laut dan wilayah sekitarnya.
(inspirasitala.co.id/ins-01)Â
